artikel

Membangkitkan Optimisme di Tengah Pandemi Covid-19

×

Membangkitkan Optimisme di Tengah Pandemi Covid-19

Sebarkan artikel ini

Oleh : Muh. Hidayat Abdullah, S.Ag. M.Pd I*)

mediajateng.net – Lebih dari satu tahun pandemi COVID-19 melanda negara kita dan bahkan dunia. Hingga kini kasus positif corona di Indonesia telah mencapai 1.911.358 orang, sembuh 1.745.091 orang, dan meninggal sebanyak 52.879 orang (Detik.com, 14/6/2021). Angka tersebut bukanlah jumlah yang kecil. Bahkan kecenderungan akhir-akhir ini trennya terus meningkat. Pemerintah tak kurang-kurang melakukan berbagai upaya untuk mengatasinya. Mulai dari sosialisasi bahaya COVID-19, sosialisasi 5 M, memberlakukan PSBB, PPKM, mendatangkan vaksin dari berbagai negara, dan lain sebagainya. Itu semua ditempuh pemerintah sebagai bukti keseriusannya dalam mengatasi pandemi COVID-19. Pemerintah pusat dan daerah bersama-sama menyiapkan segala sesuatunya yang sekiranya diperlukan agar penyebaran COVID-19 dapat ditekan.

Pandemi COVID-19 memiliki dampak yang luar biasa terutama pada sektor kesehatan dan ekonomi. Pada sektor kesehatan, banyak tenaga kesehatan yang turut menjadi korban, ribuan orang meninggal, rumah sakit terfokus mengurusi pasien COVID-19 sehingga pelayanan yang lain sedikit terganggu.
Pada sektor ekonomi, banyak perusahaan bangkrut, toko swalayan tutup, PHK merebak dimana-mana, angka kemiskinan melonjak, kriminalitas meningkat, dan kesulitan usaha sangat dirasakan masyarakat. Pada tahun 2021, negara telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp 699.43 triliunan (antaranews.com, 14/6/2021) untuk membangkitkan ekonomi nasional melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Meskipun demikian program tersebut masih belum membuahkan hasil yang berarti.
Salah satu buktinya yaitu bahwa masyarakat kecil merasakan betul betapa sulitnya mencari sesuap nasi. Pedagang kaki lima dibatasi jumlah pengunjungnya, warung-warung dibatasi jam operasionalnya, usaha-usaha kecil bangkrut, pekerjaan sulit didapat, lowongan kerja semakin sempit, dan lain sebagainya sementara kebutuhan terus meningkat.

Kondisi yang demikian tak jarang memicu seseorang menjadi stres, tertekan, psikologisnya shok, pesimistis dan bahkan depresi. Akibatnya banyak orang melakukan tindakan tidak terpuji seperti mencuri, menjambret, menipu, korupsi dan lain sebagainya. Dan yang paling miris, banyak masyarakat yang frustasi lantaran tidak dapat pekerjaan sementara mereka harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tanpa mengabaikan peran pemerintah, bahwa bantuan memang telah diberikan kepada masyarakat dalam bentuk bantuan sosial, namun demikian jumlahnya masih jauh dari cukup.

Bagi orang yang beriman, kesulitan hidup harus disikapi dengan sabar. Segala ujian dan cobaan memang datang untuk menguji kadar keimanan dan kesabaran seseorang. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran: “Dan kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah: 155).

Merebaknya COVID-19 harus dilihat secara proporsional, adil, dan seimbang. Artinya, wabah COVID-19 tidak hanya dilihat dari sisi negatifnya saja. Akan tetapi harus dilihat dari sisi positifnya juga. Bila hanya melihat dari sisi negatifnya saja, tentu hal itu akan menyebabkan pesimisme. Namun bila melihat dari sisi positifnya, tentu kita akan terdorong untuk bersikap optimis dan terus berihtiar semaksimal mungkin mencari solusi.

Islam melarang umatnya bersikap lemah, pesimis, dan apalagi putus asa. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya: “… Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az Zumar: 53). Islam justru menyuruh ummatnya untuk senantiasa optimis. Hal ini dengan tegas dinyatakan dalam Al Quran: “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Al Imran: 139).

Sikap optimis merupakan sikap orang mukmin sejati. Orang yang optimis melihat bahwa dalam setiap musibah pasti ada hikmah yang bisa diambil. Disetiap peristiwa pasti ada makna dan disetiap kejadian pasti ada pelajaran yang berharga. Sikap optimis berarti melihat segala sesuatu dari sisi baiknya. Sebagai contoh, munculnya wabah COVID-19 ternyata membawa dampak positif bagi orang-orang yang kreatif. Banyak kisah orang-orang yang sukses berbisnis online kala pandemi. Selain itu, juga banyak produk UMKM yang diekspor ke luar negeri dan lain sebagainya.

Dari sisi kesehatan, orang yang dulu mengabaikan cuci tangan kini cuci tangan menjadi kebiasaan sehari-hari, menjaga imunitas tubuh, memperhatikan makanan bergizi, selalu menggunakan masker, menumbuhkan semangat olahraga, gemar bertani, berkebun, dan lain sebagainya yang itu semua mendukung bagi kesehatan fisik dan mental.

Dalam konteks agama, adanya COVID-19 mendorong orang untuk lebih mendekatkan diri kapada Allah SWT dengan banyak beribadah, berdoa, berdzikir, dan beramal. Selain itu, pandemi COVID-19 juga membuka kesadaran kepada kita bahwa betapa manusia adalah mahluk yang lemah. Salah satu buktinya adalah saat diuji dengan mahluk kecil dan tak kelihata berupa virus corona, ternyata manusia kalang kabut. Manusia panik dan tak mampu berbuat apa-apa. Pandemi COVID-19 menyadarkan kepada kita bahwa Allahlah yang maha besar. Allahlah satu-satunya zat yang kuasa atas segala sesuatu. Oleh karenanya, tidak sepantasnya manusia itu memiliki sikap sombong. Manusia harus tetap tawadu (rendah hati) dihadapan Allah SWT.

Namun demukan, manusia juga tidak boleh pesimis. Manusia harus tetap optimis bahwa pandemi COVID-19 pada saatnya akan berakhir. Manusia harus yakin bahwa kesulitan yang tengah dihadapi tidaklah abadi. Senang dan susah, pahit dan manis, merupakan suatu siklus hidup yang niscaya. Apapun kondisi dan bagaimanapun kesulitan yang dihadapi tidak dibenarkan untuk bersikap pesimis, apalagi putus asa.

Sebagai orang Islam, kita harus selalu optimis dan berprasangka baik kepada Allah SWT. Untuk itu, marilah kita bangkitkan sikap optimisme dengan selalu bersyukur, bersabar, dan tawakkal kepada Allah SWT. Ketiga hal tersebut itulah kunci agar kita selalu diliputi rasa percaya diri, penuh semangat, dan berpikir positif.

*) Muh. Hidayat Abdullah, S.Ag. M.Pd I
Pendidik MTs Negeri 2 Banjarnegara