KUDUS, Mediajateng.net – Tanggal 2 Mei yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), tidak sekadar diperingati sebagai penghormatan kepada Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia yang pemikirannya menjadi benih bertumbuhnya pendidikan di Indonesia. Lebih dari itu, Hardiknas juga menjadi momen tepat untuk melakukan refleksi di bidang pendidikan.
Hal itu disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. Mohamad Nasir dalam amanatnya yang disampaikan oleh Rektor Universitas Muria Kudus (UMK), Dr. Suparnyo SH. MS., saat menjadi inspektur upacara bendera memperingati Hardiknas di lapangan samping Auditorium Kampus UMK, Senin (2/5/2016). “Hardiknas diperingati bukan hanya untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan seluruh pejuang pendidikan yang patut kita kenang dan hargai. Namun, juga untuk merefleksikan tentang beragam upaya yang telah dan sedang kita lakukan dalam menjalankan berbagai program untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di tanah air,” katanya.
Dalam sambutan tertulisnya bertema “Ayo Kerja, Inovatif dan Kompetitif” itu Menristekdikti menyampaikan, dalam perjalanannya, Hardiknas menjadi tonggak untuk memberikan layanan pendidikan tinggi berkualitas bagi putra putri bangsa, menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang terampil, dan meningkatkan kapasitas penciptaan beragam inovasi dan teknologi yang berdaya saing industri, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia. “Dalam bingkai pikir tersebut, ‘Ayo Kerja, Inovatif dan Kompetitif’ merupakan seruan bagi seluruh kalangan pendidikan tinggi dan perguruan tinggi untuk melakukan reformasi pendidikan tinggi sebagaimana telah dimulai Bapak Pendidikan Nasional. Reformasi pendidikan tinggi merupakan suatu keniscayaan pada saat ini, ketika kita menghadapi beragam tantangan luar biasa dalam skala lokal, nasional, maupun global,” ungkapnya.
Di depan dosen, karyawan, dan mahasiswa peserta upacara memperingati Hardiknas, lanjut Suparnyo membacakan sambutan Menristekdikti, bahwa melalui pendidikan tinggi, Indonesia mempersiapkan SDM Iptek yang akan bersaing dalam pasar kerja nasional maupun internasional, serta akan memenuhi beragam tempat kerja. “Bagaimana mungkin lulusan kita akan memiliki kompetensi untuk bekerja di dunia abad 21, jika penyelenggaraan pendidikan tinggi masih sama seperti pada abad 19?,” tegasnya mengingatkan. “Kehadiran teknologi informasi komunikasi dan jaringan, serta masyarakat ekonomi berbasis pengetahuan, menyebabkan perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak dapat ditawar lagi,” ungkapnya.
Menristekdikti pun mengingatkan, bahwa masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan, yang pada dasarnya akan mereformasi penyelenggaraan pendidikan tinggi. “Ayo kita kerja secara inovatif dan kompetitif untuk menghasilkan SDM Iptek terampil serta inovasi dan teknologi yang berdaya saing sebagai tujuan utama pendidikan tinggi kita,” pesannya.
Guru besar Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu menuturkan, dalam bingkai daya saing ini, tidak bisa menjalankan pendidikan tinggi dengan cara dan kualitas yang telah dilakukan selama ini untuk menjawab tantangan masa depan. “Kualitas yang kita capai kemarin sangat berbeda dengan kualitas yang harus dicapai di hari esok dalam kecepatan pencapaian yang berbeda pula,” tuturnya. (MJ-008)

Comments are closed.