Bupati Banjarnegara : Pemakaman Akan Dilaksanakan Sabtu Besok

Banjarnegara, mediajateng.net – Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono, mengatakan bahwa pemakaman almarhum Soegeng Boedhiarto, pejuang kemerdekaan sekaligus Ayahandanya, akan dilaksanakan Sabtu besok 17 Juli 2021 pukul 10.00 WIB di Kompleks Makam Bong, Karang Tengah, Banjarnegara.

Budhi Sarwono menjelaskan hal tersebut di sela-sela menemui para pelayat di rumah duka, Jalan Mayjend DI Panjaitan Nomor 1 Banjarnegara, Jumat 16 Juli 2021. Para pelayat dari berbagai instansi maupun masyarakat menyampaikan duka cita yang mendalam, mengingat kiprah Soegeng Boedhiarto yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Namun, pihak keluarga bupati menerapkan protokol kesehatan yang ketat, sehingga tamu yang datang diatur dengan tertib dan tidak berkerumun.

“Jenazah akan dimakamkan hari hari Sabtu besok tanggal 17 Juli 2021 di TPU Bong Karangtengah, berangkat dari rumah duka pukul 10 pagi. Untuk upacara keagamaan dilayani dari Gereja Katolik St. Antonius Banjarnegara,” kata Budhi.

Lebih lanjut Budhi mengucapkan permohonan maaf dan doa kepada almarhum sekaligus ucapan terima kasih kepada semua pihak atas simpati dan bantuan yang diberikan.

“Kami ucapkan terima kasih atas doa, simpati, dan bantuan baik moral maupun material. Kiranya mohon dimaafkan segala kesalahan ayah kami, semoga arwah Beliau diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” lanjutnya.

Budhi juga mengimbau kepada masyarakat untuk mengikuti prosesi doa maupun pemakaman melalui zoom meeting, mengingat kondisi masih PPKM Darurat.

“Bagi Bapak, ibu dan saudara yang akan mengikuti prosesi-prosesi, upacara dan pelepasan jenazah, dimohon untuk mengikuti dan menaati Protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah mengingat adanya pandemi Covid 19,” himbaunya.

Soegeng Boedhiarto, alias Ing Biaw, wafat pada usia usia 92 tahun di RSUD Banjarnegara pada Jumat (16/7/2021) pukul 05.45 WIB. Lahir di Purwokerto pada 4 Juli 1929, Beliau memiliki sembilan anak, dan merupakan ayah kandung Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono.

Soegeng adalah mantan anggota Pos Rahasia dalam Kota Corp Polisi Militer Djawa (CPMD) yang bertugas sebagai penyadap intelijen. Semasa hidupnya, sang veteran tidak pernah bosan mengingatkan pada generasi muda tentang perjuangan para veteran dalam mengusir penjajah. Perjuangan di masa penjajahan tidak saja dirasakan pejuang. Rakyat juga ikut merasakan penderitaan yang terjadi di masa pendudukan.

Di masa itu, perjuangan melawan penjajah dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat. Tidak hanya mengangkat senjata, membantu memenuhi kebutuhan pejuang juga dilakukan masyarakat pada umumnya. Semuanya adalah pahlawan.

“Ingatlah, musuh sekarang bukanlah penjajah. Melainkan bangsa sendiri yang anti toleransi, anti Pancasila, anti persatuan dan kesatuan, tidak cinta NKRI,” kalimat tersebut sering diucapkannya kepada generasi muda.

Pada masa penjajahan, Soegeng berperan mengatur strategi perang masuk Kota Purwokerto. Dengan informasi yang dipasok ke pasukan, penyerangan bisa dilakukan lebih intensif dan optimal. Untuk memudahkan penyerangan pada malam hari, Soegeng memberikan ide agar tower pengintai dirobohkan. Pejuang yang akan merebut ke Purwokerto sempat dihalau, tapi akhirnya berhasil menusuk jantung lawan. Dan Soegeng memilih jadi barisan pejuang untuk menghapus penjajahan dari bumi pertiwi.

“Saya umur 17 tahun sudah ikut berjuang bersama tentara dan polisi dan rakyat. Semua bersatu, tidak ada pribumi-non pribumi, yang ada adalah bangsa Indonesia. Ada yang setia pada negara, ada yang mengkhianati bangsa sendiri untuk mendapat simpati Belanda. Saya paling antipati terhadap pengkhianat bangsa,” kisah Soegeng ketika diwawancarai sebuah stasiun televisi Agustus tahun lalu. Selamat jalan, Sang Veteran sejati. (MJ/50)