Jawa Tengah

Studi: Anak yang Sering Konsumsi Makanan Ultra-Olahan Berisiko Memiliki IQ Lebih Rendah

×

Studi: Anak yang Sering Konsumsi Makanan Ultra-Olahan Berisiko Memiliki IQ Lebih Rendah

Sebarkan artikel ini

Media Jateng, Semarang – Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa anak yang terbiasa mengonsumsi makanan ultra-olahan sejak usia dini berpotensi memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah saat memasuki usia sekolah.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah British Journal of Nutrition dan menjadi salah satu bukti terbaru mengenai pentingnya pola makan sehat pada masa awal kehidupan anak.

Penelitian dilakukan oleh tim ilmuwan dari Brasil dan Amerika Serikat yang meneliti lebih dari 3.400 anak. Para peneliti memantau pola makan anak saat berusia dua tahun, kemudian membandingkannya dengan hasil tes kecerdasan ketika mereka berusia enam hingga tujuh tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang lebih sering mengonsumsi makanan ultra-olahan seperti mi instan, nugget, sosis, minuman manis, serta camilan tinggi gula dan garam cenderung memperoleh skor IQ yang lebih rendah dibandingkan anak yang memiliki pola makan lebih sehat.

Para peneliti menjelaskan bahwa dua tahun pertama kehidupan merupakan periode penting dalam perkembangan otak manusia. Pada masa tersebut, otak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan membutuhkan asupan nutrisi berkualitas untuk membentuk jaringan saraf yang berfungsi dalam proses berpikir, belajar, dan mengingat.

Kekurangan zat gizi penting seperti protein, zat besi, seng, serta lemak sehat dapat menghambat perkembangan otak secara optimal. Sebaliknya, konsumsi makanan yang tinggi gula, garam, dan bahan tambahan dinilai kurang mendukung proses tumbuh kembang tersebut.

Dalam penelitian itu, para ahli menggunakan tes kecerdasan standar internasional untuk mengukur kemampuan kognitif anak saat usia sekolah. Setelah dianalisis, hubungan antara pola makan tidak sehat dan rendahnya skor kecerdasan tetap terlihat meskipun faktor lain seperti tingkat pendidikan orang tua, kondisi ekonomi keluarga, dan lingkungan belajar anak telah diperhitungkan.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa kecerdasan anak tidak hanya ditentukan oleh makanan. Faktor genetik, pola asuh, pendidikan, kesehatan, dan stimulasi dari lingkungan juga memiliki peran penting dalam perkembangan kemampuan intelektual anak.

Namun, hasil studi ini menunjukkan bahwa kualitas makanan yang diberikan pada masa balita merupakan salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan.

Para ahli pun mengimbau orang tua untuk membiasakan anak mengonsumsi makanan segar dan bergizi seimbang, seperti sayuran, buah-buahan, ikan, telur, susu, serta sumber protein lainnya. Kebiasaan tersebut dinilai dapat membantu mendukung perkembangan otak sekaligus menjaga kesehatan anak dalam jangka panjang.

Dengan semakin banyaknya penelitian yang menunjukkan kaitan antara pola makan dan perkembangan kognitif, kesadaran terhadap pentingnya gizi pada usia dini menjadi hal yang semakin relevan bagi para orang tua maupun pembuat kebijakan di bidang kesehatan dan pendidikan.(ot/mj)