MediaJateng.Net – Tahun 2012, saat sinetron Tukang Bubur Naik Haji ramai di layar kaca RCTI, ada kisah nyata yang diam-diam mengalir di jalanan Banjarnegara.
Setiap subuh, ketika usai shubuh di udara dingin, Pak Heru Santosa sudah mendorong gerobaknya. Cat birunya sudah pudar, rodanya berdecit pelan, tapi langkahnya tak pernah goyah. Di atas gerobak itu bukan cuma panci besar berisi bubur kacang ijo hangat. Ada mimpi yang ikut ia dorong setiap hari.
“Pak, buburnya satu ya. Nggak pake ketan.”
“Nggih, Mbak.”
Tangannya yang kasar menuang bubur, menabur santan, Rp8.000. Uang itu ia lipat, sebagian masuk laci gerobak untuk modal besok. Sebagian lagi, selembar dua lembar, ia selipkan ke kaleng biskuit di gerobak. Kaleng itu sudah penyok, tapi di tutupnya tertulis dengan spidol: Tabungan Baitullah.
Orang-orang bilang, “Mana mungkin, Pak. Jualan bubur kok mau naik haji.”
Pak Heru cuma tersenyum. Matanya menatap lampu merah Polres Banjarnegara yang jadi saksi bisunya tiap pagi.
“Yang manggil kan Gusti Allah, Mas. Saya cuma ikhtiar.”

Hujan. Panas. Sepi pembeli. Lebaran nggak jualan. Gerobak rusak. Anak sakit. Lembar demi lembar rupiah tetap ia selipkan. Ada hari cuma bisa nyisihin Rp5.000. Ada hari nggak bisa nyisihin sama sekali. Tapi kaleng itu nggak pernah kosong dari doa.
Tahun berganti. Anak-anak sinetron Bang Sulam sudah naik haji di TV. Kaleng biskuit Pak Heru sudah ganti tiga kali karena karatan. Sampai suatu sore di tahun ini, HP jadulnya berdering.
“Assalamualaikum, dengan Bapak Heru Santosa?”
“Waalaikumsalam, nggih leres.”
“Dari Kementerian Agama. Bapak masuk daftar calon jamaah haji tahun ini. Kloter 72 Banjarnegara. Bapak siap?”
Gerobak biru itu mendadak terasa berat. Bukan karena bebannya, tapi karena dada Pak Heru sesak.
Ia terduduk di trotoar. Air matanya jatuh ke aspal panas, bercampur debu jalanan yang 13 tahun ia lewati.
Malam harinya, ia buka kaleng terakhir. Ia hitung bersama istrinya. Lembaran-lembaran lusuh itu, kalau ditotal, mungkin nggak ada apa-apanya dibanding biaya haji.
Tapi Allah yang mencukupkan. Dari bubur Rp8.000, dari lampu merah Polres, dari “mana mungkin” orang-orang.
Di Bandara, saat memakai kain ihram, tangannya gemetar. Bukan karena takut naik pesawat. Tapi karena ingat gerobaknya yang sekarang dititipkan ke tetangga.
Ingat setiap subuh menggigil mendorong mimpi. Ingat setiap kali hampir menyerah, tapi selalu ingat: Bang Sulam di TV aja bisa, masa Heru Santosa nggak?
Di depan Ka’bah, Pak Heru menengadahkan tangan. Nggak ada lagi bau gula merah dan santan. Yang ada hanya air mata.
“Ya Allah… Heru, tukang bubur kacang ijo dari Banjarnegara, datang memenuhi panggilan-Mu.”
Haji memang bukan soal kaya atau miskin. Haji adalah soal dipanggil, lalu kita menjawabnya dengan langkah. Sekecil apapun langkah itu. Semurah apapun bubur yang kita jual.
Karena ternyata, jalan ke Baitullah nggak selalu harus lewat tol. Kadang, jalannya adalah trotoar di utara lampu merah, dengan gerobak berdecit dan kaleng biskuit penyok yang penuh doa.***












