Pemkab Grobogan Fasilitasi Penjemputan Korban Tragedi Tol Pejagan

Grobogan, Mediajateng.net – Pemerintah Kabupaten Grobogan siap memfasilitasi penjemputan korban tragedi kecelakaan bus pariwisata yang terjadi di Tol Pejagan, Brebes, Senin (1/10/2018) dinihari kemarin. Hal tersebut diungkapkan langsung Bupati Grobogan, Hj Sri Sumarni, saat memberikan santunan kepada ahli waris empat korban yang meninggal dunia, Selasa (2/10/2018).

Dalam waktu dekat, kata Sri Sumarni, Pemkab akan menjemput para korban dengan memindahkan korban yang dirawat di RS Plumbon, Cirebon ke RSUD dr Soedjati, Purwodadi. Dengan begitu, keluarga dapat lebih dekat untuk menjaga para korban.

‘’Jika memungkinkan untuk dijemput, akan kami jemput. Dinas Pendidikan kami minta untuk berkoordinasi dengan dinas terkait, RSUD, dan kepolisian untuk pengawalan. Kami minta juga untuk berkoordinasi dengan pihak RS Plumbon Cirebon,” kata Sri Sumarni usai penyerahan santunan pada keluarga korban di Pendopo Kecamatan Pulokulon.

Dalam kesempatan itu juga, Sri Sumarni menyampaikan ikut berbela sungkawa yang mendalam kepada para keluarga korban. Sebelumnya, Sri Sumarni juga mengunjungi SMP 1 Pulokulon untuk mengucapkan ikut berduka cita yang mendalam kepada para guru atas meninggalnya empat siswa karena kecelakaan tersebut.

Selain itu, bupati juga menyerahkan santunan dari Pemkab dan PT Jasa Raharja pada empat orang tua korban kecelakaan di Tol Kanci-Pejagan tersebut. Penyerahan santunan tersebut didampingi perwakilan PT Jasa Raharja.

‘’Kami beri santunan sebesar Rp 5 juta untuk meringankan beban keluarga korban. Kami harap, keluarga korban diberi ketabahan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan PT Jasa Raharja Semarang Muharto mengatakan santunan untuk korban meninggal diberikan sejumlah Rp 50 juta. Sementara, korban luka-luka ditanggung biaya pengobatannya maksimal Rp 20 juta.

‘’Kami serahkan santunan sebesar Rp 50 juta untuk ahli waris korban kecelakaan di Brebes. Sementara yang masih mendapatkan perawatan di rumah sakit, kami bantu biayanya sebesar Rp 20 juta,” katanya.

Suasana Haru Terasa Di Rumah Duka
Sejumlah pelayat terus berdatangan ke rumah duka salah satu korban bus maut rombongan SMP 1 Pulokulon Moh Mafthut Ahnan. Di Dusun Ngampel, Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, para pelayat berdatangan sejak siang hingga sore.

Di rumah sederhana itu, sejumlah tetangga dan kerabat membantu memasang tenda di halaman rumah.
Ayah Mafthut, Ramlan mengatakan, pihaknya baru mendapatkan kabar kecelakaan tersebut dari pihak kepolisian, sekolah, dan koramil sekitar pukul 09.00.

‘’Mereka mengatakan kalau anak saya merupakan salah satu korban meninggal dunia,” kata Ramlan.

Sebelumnya, Ramlan mengaku tidak mendapatkan firasat apapun menjelang kepergian anaknya. Namun, dia mengungkapkan, semula Mafthut sempat tidak ingin mengikuti kegiatan studi tur tersebut. Namun akhirnya, Mafthut tetap berangkat.

‘’Karena dia bilang kegiatan studi tur itu gratis dan semua teman-temannya ikut. Akhirnya, dia ikut berangkat mengikuti kegiatan studi tur itu,” kata Ramlan yang sehari-hari menopang nafkah keluarganya dengan bertani ini. Kini, keluarganya mengikhlaskan kepergian Mafhut.

Dikatakan Sodikin, kegiatan studi tur tersebut diikuti 210 siswa kelas VIII dan didampingi 20 guru. Mereka berangkat studi tur dengan tujuan Jakarta Bandung selama empat hari (30/9 – 3/10). Dalam rangkaian kegiatan studi tur tersebut, pihaknya menggunakan biro perjalanan Rafa Tour asal Purwodadi, Grobogan.

‘’Tahun lalu kami menggunakan biro perjalanan Alfin Tour. Kali ini kami ganti menggunakan Rafa Tour, biro perjalanan asal Purwodadi. Hal ini dikarenakan dengan biro sebelumnya, kami mengalami kecelakaan. Ternyata, kami ganti biro saja masih terkena musibah ini,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan studi tur pada tahun depan. Pemberhentian itu dilakukan dengan berbagai pertimbangan.

‘’Kami tak mau kembali mengalami musibah ini. Untuk sementara kami hentikan dulu program studi tur sampai batas waktu yang belum ditentukan. Kejadian ini membuat kami trauma,” pungkas Sodikin.

Comments are closed.