Merenungi Hikmah Kurban di Masa Pandemi

Oleh: H Muhammad Afif, Lc*

PADA tahun 2020 ini, kita kembali akan memperingati hari Raya Idul Adha 1441 H. Hari raya ini mengandung peristiwa penting, yaitu sejarah pengorbanan Nabiyyullah Ibrahim AS, beliau menjadi generasi yang patut diteladani oleh umat saat ini, generasi yang sanggup dan mau berkurban demi kepentingan umat beragama.

Ibadah kurban merupakan napak tilas perjalanan seorang ayah dan anak yang saling mencintai, yakni Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS. Hal ini tampak sekali dari gambaran dalam ayat Al-Qur’an yang menceritakan pengorbanan nabi Ibrahim, dimana beliau memang sanggup dan mau berkurban meskipun harus dengan nyawa sekalipun bahkan ketika Allah memerintahkannya untuk mengorbankan sang anak yang bernama Ismail dia melakukannya dengan hati yang mantap.

Karena itu, penyembelihan hewan kurban, selain mengajarkan kerelaan berkorban harta dan sifat kebinatangan, juga mengandung nilai sejarah, dan pendidikan keluarga dan spiritualitas hamba di hadapan Sang Khaliq.

Namun suasana Idhul Adha tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebagaimana kita ketahui, pada tahun ini, ibadah kurban  harus kita laksanakan di tengah pandemi coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sampai saat ini belum berakhir. Kurban ini akan lebih bermakna Dan terasa bagi masyarakat ekonomi lemah karena terkena dampak COVID-19.

Pandemi  COVID-19 ini benar-benar membawa dampak dalam berbagai sector, termasuk sektor ekonomi. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan, ada yang masih tetap bekerja tapi tetapi tidak berangkat full di hari kerja sehari bekerja sehari tidak, ada yang tetap bekerja tetapi gajinya tidah utuh karena ada pemotongan,ada yang bangkrut dalam usaha dan bisnisnya dan lain sebagainya.

Selain itu angka pengangguran semakin meningkat lapanga kerja semakin sempit, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, oleh karena itu berkurban dalam situasi dan kondisi saat ini benar-benar bermakna di butuhkan, dan sangat bermanfaat.

Sehingga, ada banyak renungan yang bisa kita peroleh saat melaksanakan ibadah kurban di masa pandemi. Jika dipahami lebih jauh, kurban tidak saja mengandung nilai spiritual tetapi juga memiliki beberapa nilai sosial kemanusian yang luhur.

Dan berkurban di masa pandemi ini ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Setidaknya ada tiga hal yang akan menjadi pembahasan dalam artikel ini.

  1. Kurban mengajarkan dan mendidik kita untuk bersikap dermawan, tidak rakus dan kikir.

Rasulullah SAW bersabda :

“Orang yang dermawan, dekat kepada Allah dan dekat dari sesama manusia, dekat dari surga, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang kikir itu jauh dari Allah SWT, jauh dari sesama manusia, dekat dari neraka dan jauh dari surga. “

  1. Ibadah kurban bisa menjadi bukti kepekaan sosial aghniya’.

Artinya, masyarakat mampu terhadap yang lemah. Seseorang tidak pantas kenyang sendirian dan bertaburan dengan kemewahan dumiawi, sememtara masih banyak tetangga saudara sesama manusia yang sangat membutuhkan bantuan dan uluran tangan.

Kurban menyadarkan kita bahwa harta yang kita miliki pada hakekatnya mutlak milik Allah swt,sedangkan kita hanyalah penerima titipan dariNya yang di dalamnya ada hak orang lain yang harus kita berikan Allah berfirman(QS : Adzdzariyat : 19)

Dan diantara hikmahnya lagi adalah bahwa dengan pengorbanan harta melalui hewan kurban yang kita bagikan kepada sesama kita akan semakin dekat kepada Allah dengan bukti menjadi orang-orang yang selalu mengerjakan perintah-perintahNya dan taat kepadanya.

Ibadah kurban di hari raya Idul Adha juga bisa menjadi momen bagi kita untuk berbagi rejeki dengan saudara seiman yang lebih tidak berdaya. Sehingga, tidak rugi bagi kaum muslimin untuk menyenangkan orang lain. Apalagi, mencintai saudara sesama muslim termasuk kesempurnaan iman.

Sesuai hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari & Muslim). 

  1. Melatih keikhlasan

Untuk diketahui, saat ini bisa jadi sebagian kaum muslim yang enggan kurban terlebih di saat krisis akibat pandemi. Sehingga, poin keikhlasan menjadi landasan perintah berkurban terkait dengan kondisi pandemi saat ini karena masyarakat sedang dalam ekonomi terpuruk. Tentunya, dengan keihlasan, kurban menjadi kunci pembuka untuk lebih mengenal agama Islam dimana kita bisa mengukur skala prioritas kita.

Yang dimaksud adalah, tidak berarti mengabaikan kebutuhan dunia, tetapi menempatkan prioritas agama harus ada dalam paradigma umat Islam. Sehingga, jika ibadah telah dijadikan prioritas tertinggi dalam hidup kita, hal itu berimbas ibadah kurban bukan satu hal yang berat.

Namun tidak semua berparadigma demikian, karena banyak hal.  Bisa jadi pengalihan anggaran yang digunakan untuk kebutuhan lain, apalagi dalam kondisi pandemi. Juga alasan lainnya, misalnya keraguan dan kekhawatiran yang datang. Namun dari semua alasan tersebut, bisa jadi diawali dari kurangnya kesungguhan dalam menunaikan ibadah kurban.

Terkait hal itu, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an.

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

Dari ayat tersebut, tekad berkurban sejatinya lebih bulat karena Allah akan membuka pintu rejeki lain bagi yang menunaikan kurban dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan. Meskipun kurban bukan ibadah yang wajib, namun sangat disayangkan apabila kita melewatkan ibadah kurban.

Demikian renungan singkat tentang hikmah kurban di masa pandemi. Semoga kita semua termasuk dalam golongan ummat islam yang terus menghidupkan semangat berkurban, sebagai bagian dari Iman dan taqwa kita kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bisshawab.

* Penulis adalah Wakil Ketua DPRD Kota Semarang