Merawat Toleransi di Jalan Sehat LDII Semarang

admin
By
admin
4 Min Read

Media Jateng, Semarang — Pagi baru saja merekah di Kompleks Masjid Al Wali, Jalan Ketileng Raya, Tembalang, Kota Semarang ketika ribuan warga LDII menyemut di area pelataran.

Di tengah keceriaan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, ada pesan mendalam yang terselip dari balik derap langkah kaki 3.000 warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Semarang Timur bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global lewat kemandirian pangan dan toleransi.

Momentum jalan sehat sejauh dua kilometer, Minggu 30 Agustus 2026 tersebut dimanfaatkan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, untuk menyapa langsung warganya.

Saat melepas rombongan bendera start, Agustina mengingatkan bahwa dinamika ekonomi dunia yang sedang lesu bukan tidak mungkin memberi dampak domino hingga ke tingkat lokal di Kota Semarang.

“Yang paling baik adalah kita bertahan. Bagaimana caranya menciptakan lumbung pangan sendiri dan berhemat terhadap bahan pangan yang ada,” tegas Agustina di hadapan peserta.

Menurut Agustina, penguatan ketahanan pangan tak selalu menuntut lahan hektaran atau industri besar.

Strategi paling efektif justru dimulai dari pekarangan rumah dan lingkungan sekitar.

Dalam kesempatan itu, ia memberi apresiasi khusus atas langkah DPD LDII Kota Semarang yang mulai mengenalkan sorgum sebagai komoditas pangan alternatif pendamping beras, sekaligus memfasilitasi UMKM warga.

Pengembangan sorgum dinilai tak sekadar menjawab ancaman krisis pangan, tetapi juga menjadi pemantik roda ekonomi berbasis komunitas.

Sorgum, tidak saja dimanfaatkan karena ada. Namun manfaat yang diberikan seperti tidak sekedar mengenyangkan juga menyehatkan. Khususnya bagi penderita penyakit menahun seperti diabetes.

Merawat Toleransi dan Silaturahmi

Bagi LDII Kota Semarang, agenda olahraga massal ini merupakan ruang perekat sosial.

Ketua DPD LDII Kota Semarang, H. Sunarto, mengungkapkan kegiatan ini sengaja dikhususkan bagi jamaah di wilayah Semarang Timur—mencakup Pimpinan Cabang Tlogosari, Pedurungan, Tembalang, dan sekitarnya—demi kenyamanan serta ketertiban umum.

“Kalau digabung se-Kota Semarang, jumlah pesertanya akan terlalu besar. Jadi kami bagi per wilayah. Di sini saja diikuti sekitar 3.000 warga,” ujar Sunarto.

Lebih dari sekadar mengolah fisik, Sunarto menegaskan komitmen organisasi untuk merawat Kota Semarang sebagai ruang hidup yang inklusif dan toleran. Masjid Al Wali yang menjadi pusat kegiatan diharapkan terus menjadi simbol keterbukaan.

“Bagi kami, Masjid Al Wali ini ikon di Semarang Timur. Kami berkomitmen terus berkolaborasi dengan seluruh ormas, baik organisasi Islam maupun non-Islam, demi menjaga kerukunan kota,” tambahnya.

Puncak Pesta Rakyat Warga Semarang Timur

Jalan sehat ini menjadi titik puncak dari maraton rangkaian kegiatan menyambut hari kemerdekaan yang telah bergulir sejak Juli lalu. Ketua Panitia, Aklis Rosadi, menjelaskan bahwa rute dua kilometer dipilih berdasarkan evaluasi tahun lalu agar ramah untuk seluruh kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Selain jalan sehat, kemeriahan HUT ke-81 RI di lingkungan LDII Semarang Timur diwarnai beragam turnamen olahraga dan aksi sosial:

Turnamen Olahraga: Mini soccer, bulu tangkis, tenis meja, dan seni bela diri pencak silat. Aksi Kebersihan: Lomba kebersihan dan keasrian yang melibatkan 20 masjid di wilayah Semarang Timur. Pemberdayaan Ekonomi: Bazar produk UMKM lokal dan sosialisasi bahan pangan alternatif.

Rangkaian acara ditutup dengan pembagian hadiah bagi para pemenang perlombaan, mengukuhkan semangat gotong royong warga Semarang di tengah peringatan kemerdekaan bangsa.

Share This Article