Menara Tetenger Strategi Dakwah

KUDUS – Dua rektor menziarahi makam Sunan Kudus, Selasa (13/2/2018) lalu. Keduanya adalah rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Dr. Fathur Rokhman M.Hum dan rektor Universitas Muria Kudus (UMK), Dr. Suparnyo SH. MS.

Ziarah dilakukan disela-sela waktu istirahat Prof. Fathur Rokhman, yang waktu itu didaulat menjadi narasumber pelatihan kepemimpinan bertajuk ”Kepemimpinan Bertumbuh untuk Memimpin Perguruan Tinggi di Era Perubahan” bagi pejabat struktural UMK.

Didampingi Wakil Rektor I UMK, Dr. Murtono M.Pd., kedua rektor itu juga mengunjungi makam beberapa tokoh Islam di kompleks makam Sunan Kudus, salah satunya adalah makam KH. Raden Asnawi yang disertai salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Denny Nur Hakim.

Prof. Fathur Rokhman, mengutarakan, Sunan Kudus merupakan tokoh yang sangat terhormat bagi kebanyakan masyarakat Jawa. Nama besarnya terekam sebagai tokoh spiritual yang toleran.

‘’Sebagai tokoh spiritual, Sunan Kudus adalah tokoh agama yang mampu menjembatani masyarakat Jawa pada pencerahan spiritual bernama Islam. Beliau menjadi guru bagi ribuan umat di Jawa dalam menjalani jalan spiritualitas itu,’’ katanya.

Dikemukakan olehnya, Sunan Kudus memiliki kemampuan bersyiar diiringi kearifan yang tinggi. Dakwahnya sejuk, menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, serta menyandingkan Islam sebagai ajaran dengan kearifan masyarakat setempat.

‘’Berkat dakwahnya itu, Islam di Jawa tersebar menjadi ageman (nilai), tanpa harus berkonfrontasi dengan kearifan masyarakat setempat yang telah mendahuluinya,’’ lanjutnya menambahkan.

Keberadaan Menara Kudus, dalam pandangannya, dinilai sebgai menjadi tetenger strategi dakwahnya yang sejuk dan damai. ‘’Itu tetenger fisik yang dapat dilihat. Tetapi sejatinya, ada banyak tetenger lain dalam bentuk ajaran, perilaku, dan ilmu,’’ jelasnya.

Dan dalam suasana sosio-kultural yang cenderung memanas seperti saat ini, Sunan Kudus adalah teladan bagi umat Islam. ‘’Sebagai pribadi, Sunan Kudus dapat diteladani akhlaknya yang baik. Sebagai pendakwah, ia layak diteladani kedalaman ilmu dan strategi komunikasinya. Sedang sebagai anggota masyarakat, bisa diteladani perannya dalam menyatukan aneka perbedaan dalam sebuah harmoni,’’ tuturnya.

Sementara Dr. Suparnyo, mengatakan, nilai-nilai yang diajarkan Sunan Kudus sarat dengan kegiatan positif yang diimplementasikan masyarakat hingga kini, seperti perilaku santun, bagus, suka ngaji (senang menuntut ilmu) dan banyak masyarakat menekuni wirausaha.

‘’Nilai-nilai yang diwariskan oleh Sunan Kudus inilah, yang merupakan kearifan lokal masyarakat Kudus yang tiada ternilai harganya dan mesti diteladani para generasi dari waktu ke waktu,’’ paparnya.