
Media Jateng, Grobogan – Indahnya Ramadan dengan berpuasa selama sebulan penuh terasa saat Hari Raya Idul Fitri tiba yang identik sakral dengan simbol Salat Id.
Hal itu semua belum lengkap dengan mengunjungi makam saudara hingga membuat makanan berupa kupat dan lepat.
Meski bukan simbol akhir dari Bulan Syawal, kehadiran ketupat dan lepat ini terasa puncak dari Idul Fitri.
Tak hanya di Kabupaten Grobogan, Kota Solo, Solo Raya, Pati Raya, Kota Semarang dan semua daerah di Jawa menggelar Kupatan.
“Kalau saya bilang kupat (Ketupat.red) dan Lepet (lepat.red) ini menjadi harapan melengkapi saling memaafkan dan mendekatkan simbol pelukan persaudaraan. Karena kita saling memberi kupat bersama lepat dan sayur opor atau sambal goreng ati,” ujar Kustini (45) saat membeli selongsong ketupat di Pasar Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Sabtu 5 April 2025.
“Sebab kalau udah makan makanan milik tetanggau atau saudara itu lebih terasa dekat banget. Begitu sih menurut ku soa simbol kupat dan lepat ini,” lanjutnya.
Sementara itu simbol Ketupat dan Lepat menurut pedagang slongsong ketupat dan janur kuning musiman di pasar Tanggungharjo qsalah potensi bisnis cepat.
Bagaimana tidak, tercatat lebih dari 400 selongsong ketupat terjual dengan haga Rp 10.000 untuk 10 selongsong ketupat janur kuning murni.
Sedangkan untuk selongsong ketupat campuran janur kuning dan hijau muda seharga Rp 8.000 per 10 pcs.
“Kalau janur saja kita jual seharga Rp 6.000 per 10 lonjor. Bikin baru selongsongnya. Jadi anak istri saya bikin di sebelah saya, terus say melayani dan sebaliknya juga semua berperan pembuat dan penjualan,” ujar Yanto (56) warga Tanggungharjo yang menjual selongsong ketupat.
Sementara itu, saat ditanya kemampuan membuat ketupat, Yanto mengaku bisa membuat satu menit satu selongsong. Itu adalah rekor waktu tercepatnya saat buru-buru lantaran ada pesanan banyak.
Namun, jika dilakukan dengan melayani pembeli, ia dan keluarganya bisa santai membuat sejadinya.
“Ya kalau diburu waktu bisa semenit satu. Tapi ketupat mudah-mudah gampang. Apalagi harus melayani pembeli ya mengalir saja bikinnya. Total sudah 400 pcs selongsong atau 40 ikat ketupat kosong yang terjual,” lanjutnya.
“Kalau modal hanya bensin saja. Soalnya janur kuning itu dari pohon kelapa rumah,” ungkapnya.
Tak seramai tahub sebelumnya, entah karena sepi atau memang warga sedang ‘nyepi’ untuk menyimpan keuangannya.
Menurut ingatan Yanto, tagun 2024 atau Idul Fitri 1445 H ia dan keluarganya bisa menjual hampir seribu selongsong. Hanya saja, kali ini jauh dari harapan karena tak sampai 50% dari penjualan tahun lalu.
“Bisa saja memang banyak penjual baru atau warga menyimpan uangnya jadi lebih merosot penjualan tahun ini,” tandasnya.****












