‘Penguasa’ Sunan Kuning Tolak PSK Kalijodo

SEMARANG, Mediajateng.net – Pekerja Sek Komersial (PSK) dari Taman Kalijodo, ditolak jika datang untuk bekerja di Semarang. Penolakan dilakukan jika mereka hendak kembali menggeluti dunia prostitusi.

“Kita tidak akan terima PSK dari Kalijodo bekerja di sini (Sunan Kuning),” ungkap Ketua Resosialisasi Argorejo, Sunan Kuning, Semarang,‎ Suwandi HS Selasa (1/3).

Bukan karena pengurus takut anak binaan yang sudah ada kalah bersaing, namun penolakan lebih disebabkan karena tempat yang juga menyediakan ruang karaoke dan prostitusi itu merupakan tempat untuk merehabilitasi PSK dan bukan memperkejakan. “Makanya nama sebenarnya Resosialisasi Argorejo. Tapi, oleh orang-orang lebih dikenal dengan Lokalisasi SK,” tambah Suwandi.

Suwandi menambahkan, di SK, PSK diberi pelatihan ketrampilan khususnya yang terkait dengan wanita. “Kebanyakan kita latih merias, tapi ada juga yang kita latih boga. Ada yang tetap bertahan di SK tapi mereka buka usaha rias tapi ada juga yang keluar,” ungkapnya.

‎SK, yang secara administrasi masuk Kelurahan Kalibanteng Kulon, ‎Kecamatan Semarang Barat, tidak saja menjadi tempat terakhir untuk membina para PSK. Namun, di SK yang menerapkan sistim ketat yakni pemeriksaan ‘barangnya’ dan penyuntikan vitamin tertentu untuk kekebalan tubuh juga menggelar peringatan bagi PSK maupun pengunjung dengan sering menggelar kegiatan agama. “Kita sering gelar pengajian di masjid yang juga pintu gerbang. Jadi dengan mendengar diharapkan timbul niatan untuk sadar baik pengunjung maupun warga binaan yang berjumlah lebih dari 500 wanita berbagai usia,” ungkapnya.

Tidak sebatas memberi teori dengan ngajari namun pengurus juga ‘menyiapkan’ modal usaha bagi warga binaan. “Kita undang bank untuk melayani setoran. Uang setoran diharapkan jadi modal usaha. Tabungan mereka tidak sedikit lho. Bayangkan saja setelah lebaran yang baru sekitar 6 bulan lalu ada yang sudah nabung Rp 100 juta uang itu tentu bisa untuk modal,” tambahnya saat berdiskusi dengan Mediajateng.net di aula yang juga berfungsi sebagai balai RW.

Diakui Suwandi, untuk bisa menjalankan keamanan pihaknya menggelar sistim portal dengan tarif masuk nominal tertentu. Selain itu, bagi tamu yang menginap juga dikenakan biaya. ‎”Dengan dana yang didapat maka bisa menjaga lingkungan dan juga menempatkan petugas keamanan. Jam menginap mulai setelah penutupan karaoke jam 24.00,” ungkapnya.

Keberadaan SK, imbuh dia, baru sebagian dari dunia prostitusi di Kota Semarang. “Kami hanya bisa membina beberapa. Masih ada PSK yang berjualan di TI (tanggul indah), jalan Imam Bonjol dekat Stasiun Poncol dan ada juga di karaoke luar SK,” tambahnya.

Kabar penutupan lokalisasi Kalijodo Jakarta juga sempat memunculkan kekhawatiran terhadap pengelola wisma. “Kami khawatir juga. Jika SK ditutup tentu karaoke juga tutup. Padahak di sini (SK) malah kesehatan dikontrol dan tempatnya tidak kumuh,” ungkap pemilik wisma yang mengaku bernama Dul. (MJ-74)

Comments are closed.