Ngaji Urip Bareng Sahabat Mata

“Doa pedagang sayur

Kepada pelanggan yang berhutang
Semoga dimudahkan segala rizkinya….”
SEMARANG,Mediajateng.net-Bait awal lagu dengan Doa Pedagang Sayur dinyanyikan dengan sangat merdu oleh Sofyan diiringi Fifi dengan alunan piano. Puluhan orang yang datang seketika diam, dan pandangan langsung tertuju pada pemuda anggota komunitas Sahabat Mata, kumpulan orang tuna netra.
Sedianya acara diskusi Ngaji Urip yang digelar Gerai Rempah komplek Taman Budaya Raden Saleh yang menghadirkan komunitas Sahabat Mata menjadi ajang para tuna netra untuk membuktikan bahwa ketiadaan pandangan tidak menghalangi kreativitas. “Selain lagu yang dinyanyikan mas Sofyan, ada 8 lagu lain,” kata Basuki, Ketua Komunitas Sahabat Mata, usai diskusi pada Sabtu (27/2).
Selain musik, lanjut Basuki, ada teater, fotografi dan kepenyiaran. “Kami juga sedang proses penerbitan al Quran braile. Dan pada Senin (29/2) kami mewakili Jawa Tengah untuk pelatihan penanggulangan bencana para penyandang disabilitas,” kata dia.
Komunitas yang berdiri pada 2008 tersebut telah memberi pengarahan pembelajaran pada lebih dari 500 penyandang disabilitas, dan para tuna netra yang belajar di Komunitas Sahabat Kita datang dari seluruh penjuru tanah air, “paling jauh dari Papua. Dia belajar selama tujuh bulan di Sahabat Kita,” kata Basuki, dan mengatakan tidak pernah ada kelibatan dari Pemerintah Kota maupun provinsi dalam keberlangsungan Sahabat Mata.
Dari sekian banyak peserta belajar, paling susah penanganannya menurut Basuki adalah para penyandang disabilitas ganda. Perumahan Jati Asabri, Mijen yang menjadi tempat tinggal Basuki pun, saat ini juga dimanfaatkan sebagai asrama. “Asrama putra 4 orang, putri 1 orang,” tutur dia.
Basuki juga mengatakan, sedikitnya yang tinggal di asrama, karena Sahabat Kita tela menerapkan pola pembelajaran by phone. “Komputer, Quran braile. Dengan pola pembelajaran demikian, paling cepat 3 hari sudah menguasai dasar,” kata Basuki sambil menjelaskan bahwa para tuna netra memiliki panggilan terhadap orang yang melihat dengan, saudara awas, bukan saudara normal.
Babahe Widyo Leksono, CEO Gerai Rempah, yang juga pembicara mengatakan bahwa penyetaraan harus dilakukan siapa pun. “Baik saudara awas maupun tuna netra. Harus terus menyuarakan kesetaraan, dalam pergaulan, kreativitas dan yang paling penting kesetaraan kewajiban dan hak sesuai kapasitas,” kata pria yang akrab disapa Babahe.
Sementara itu, penggagas acara Agung Hima menjelaskan bahwa Ngaji Urip ini mencoba menggugah siapa pun terhadap remah-remah kehidupan. “Kita memang perlu belajar dari siapa dan apa pun,” tutur dia, dan menyampaikan acara ini akan berlangsung berkala tiap bulan di Gerai Rempah, di kompleks Taman Budaya Raden Saleh.(MJ.16)

Comments are closed.