Kasus Aborsi Adalah Fenomena Gunung Es

Semarang,MediaJateng– Dugaan aborsi yang dilakukan seorang santriwati berinisial NLM,(20) warga Pusakajati, Kabupaten Subang, Jawa Barat dan pemuda berinisial DYA (24) warga Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, belum lama ini dipandang miris oleh dua pakar psikologi Kota Semarang.

Menurut ahli Psikologi yang juga Humas Rumah Sakit Elisabeth
Probowatie Tjondronegoro, mengatakan jika kasus aborsi saat ini sering dilakukan oleh para remaja dan mungkin telah menjadi konsekuensi dari gaya hidup bebas yang dianut. Namun yang terjadi dan melibatkan seorang santriwati, harus dilihat dulu status pelakunya. ” Jangan dilihat santriwatinya atau tinggal di lingkungan pondok , lantaran semua remaja kebanyakan pasti akan melakukan hal yang sama apalagi kalau merasa malu, dan harga diri mereka terancam,” ujarnya.

Apalagi kasus aborsi, biasanya dilandasi oleh rasa malu jika harga dirinya jatuh dan tentunya membuat orang jadi gelap mata, bahkan nilai-nilai agama pun dikesampingkan. Status santriwati yang disandang NLM sendiri juga harus dilihat dari latar belakang pelaku sebelum jadi seorang santri. Apalagi kasus aborsi yang dilakukan bisa dibilang terencana lantaran ada niat, kemauan, dan kesempatan untuk melakukannya. ” Kalau ada kesempatan, waktu,tentu akan dilakukan abrosi,” katanya.

Ia pun menyayangkan jika benar menurut informasi kedua pelaku mendapatkan obat aborsi dari internat atau on line. Apalagi saat ini jaringan internet bisa diperoleh dimana saja, termasuk mudahnya mengakses situs-situs porno. ” Pengawasan dari Polisi terkait situs ilegal itu juga harus ditingkatkan. Selain itu harus ada pondasi yang kuat berupa ahlak agama, pengawasan orang tua dan komunikasi dengan orang terdekat,” tuturnya.

Sementara itu, Ahli Psikologi Universitas Diponegoro Semarang, Ahmad M Akung, menambahkan jika kasus aborsi kian hari kian marak dtemui dan selalu mengalami peningkatan jumlah kasus. Hal ini dikarenakan adanya perilaku seks bebas dikalangan remaja . ” Seperti fenomena gunung es, masih banyak kasus yang belum terungkap dan trennya pun terus naik,” paparnya.

Selain itu dirinya juga menyoroti mudahnya mengakses situr porno yang diduga menjadi salah satu faktor terjadinya seks bebas. Remaja saat ini menganggap jika seks bebas dianggap lumrah, namun tidak memikirkan sisi negatif yang harus dihadapi. ” Pendidikan seks saat ini dianggap tabu, padahal sangat penting. Keluarga harus bisa menjadi benteng utama untuk mengatahui informasi yang didapat baik atau tidak,”ujarnya.

Menurut dirinya, kasus tersebut harus kembali ditelusuri oleh pihak kepolisian. Tugas polisi harus bisa menelusuri pemasok atau penjual obat aborsi yang bisa didapatkan oleh kedua pelaku. ” Pelaku adalah orang dewasa jadi bisa menentukan yang mana yang baik dan mana yang buruk, mereka bisa dijerat hukum karena tindakan yang dilakukan masuk dalam tindakan kriminal,” ungkapnya. (M.J069)

Comments are closed.