Fasum Kota Semarang Tak Ramah Difabel

SEMARANG, Mediajateng.net – Kaum difabel Kota Semarang masih merasa di-anak tirikan oleh pemerintah. Minimnya fasilitas umum (fasum) bagi mereka menjadi alasan utama. Atau pun kalau ada, tidak bisa dimanfaatkan secara optimal.
Memang, dibanding kota lain seperti Solo dan Surabaya, Semarang masih tertinggal jauh dalam penyediaan dan pengelolaan sarana umum, seperti akses trotoar, lahan parkir, tangga khusus difabel, dan layanan transportasi umum yang ramah untuk difabel.‬
‪Reza Aditia, salah satu penyandang difabel merasa kesulitan saat mengakses beberapa fasilitas umum yang ada. Mengandalkan kursi rodanya setiap hari, Reza harus bersabar karena akses tak ramah terhadap kaum difabel kerap dijumpai.‬ ‪”Terakhir saat akan mencari makan di kawasan Simpanglima, ada patok besi dengan rantai di trotoar. Lebih sulit lagi saat jalan sempit antar patok besi dikasih pot. Saya lewat mana?,” katanya, kemarin.‬
‪Tak hanya di kawasan Simpanglima, beberapa ruas jalan protokol juga dipasang patok besi sepanjaang trotoar. Hanya jalan sempit seruas keramik khusus (blind tile) bagi akses tuna netra yang diberi ruang tak berantai.‬ ‪”Apakah saya harus jungkir balik melewati pot dan rantai besi tersebut. Kebijakan pemkot belum menyentuh kami yang difabel,” tambahnya.‬
‪Akses lainnya yakni fasilitas BRT (Trans Semarang). Tangga yang memang sudah dibuat landai lurus sebagai akses kursi roda, menurutnya masih terlalu menukik dengan kemiringan 45 derajat. “Itu sama saja saya menuruni jalan curam, malah bahaya bagi kami pengguna kursi roda, bukan kemudahan malah resiko yang harus kami tanggung jika jatuh,” bebernya.‬
‪Diakui Reza, jika program pemerintah Kota Semarang dalam memberikan akses kepada kaum difabel memang sedang digalakkan. Namun, kurang mendengar dan mengerti seperti apa kemauan para difabel dalam layanan akses fasilitas umum.‬ ‪”Ya itu karena pemkot dan anggota dewan dalam merumuskan kebijakan layanan akses bagi kaum difabel tak pernah mengikutsertakan kami. Jadi hanya sekedar malakukan kewajiban saja namun belum tepat mengena sasaran,” ujarnya.
Noviana Dibyasari, pemerhati layanan umum dan kaum difabel merasa prihatin akses layanan umum bagi difabel. Pemkot, menurutnya harus tegas, ia mencontohkan di kota Solo sudah terpasang rambu-rambu parkir khusus difabel sehingga saat memarkir kendaraan bisa nyaman dan tak membahayakan mereka dan pengguna lainnya. ‬‪”Di Semarang ada rambu-rambu tersebut, namun malah sering dipakai oleh non difabel. Kasihan para difabel tak bisa mengakses,” ujarnya.
Ia juga menyayangkan penggunaan trotoar dan pedestarian belum maksimal bagi difabel. Banyaknya patok besi, pot bunga, tiang listrik serta hanya sedikit ruang blind tile (keramik khusus) bagi tuna netra, justru kini rusak. Rusak juga diakibatkan kerap dipakai lahan parkir liar di trotoar. “Blind Tile yang rusak sangat membuat tak nyaman bagi difabel yang menggunakan tongkat dan kursi roda. Harus segera diperbaiki dan ditata kembali, meski demikian diruas trotoar protokol ada yg sudah cukup baik dan lebar,” tambahnya.‬
Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia), yang menyatakan layanan BRT sudah manusiawi bagi kaum difabel masih dianggapnya kontrovesial.‬ ‪”Bagi difabel tuna netra mungkin masih dikategorikan ramah layanan, namun bagi tuna daksa dan lansia masih jauh dari kesan ramah,” terangnya.‬ (MJ-69)

Comments are closed.