Cuaca Ekstrim, Proyek Paket I Bandara New Ahmad Yani Molor

SEMARANG, Mediajateng.net – Akibat cuaca ekstrim, Proyek Paket I, Bandara New Ahmad Yani Semarang dipastikan molor hingga dua bulan. Curah hujan lebat yang kerap terjadi akhir-akhir ini, menyebabkan tanah di lahan proyek kian lembek dan mengandung banyak lumpur.
“Jadi ketika basah terkena air hujan, tanahnya langsung seperti bubur. Mobil biasa saja tidak bisa masuk, apalagi alat berat. Pembangunannya sangat terganggu kalau curah hujannya masih tinggi,” ucap Pimpro PT Angkasa Pura 1, Endah Preastuty, kepada Mediajateng.net, kemarin.
Kalau hujan turun malam hari, lanjutnya, tidak begitu berpengaruh karena ketika pagi, kadar air dalam tanah mulai berkurang. Jika cerah, pada siang hari sudah bisa dikerjakan karena tanah sudah mengeras. “Kalau basah cepat becek, dan kalau panas, cepat kering. Bahkan kalau kering, tanahnya bisa sangat keras. Kalau kendala rob tidak ada karena itu memang bukan wikayah langganan rob,” cetusnya.
Selain kondisi tanah, hujan juga mempengaruhi kualitas cor beton. Praktis, jika turun hujan, aktivitas pengecoran harus segera dihentikan. Sebab, jika kandungan airnya terlalu banyak, cor beton tersbut tidak akan bisa bertahan lama.
Dua masalah ini telah membuat proyek pembangunan Paket I molor hingga dua bulan atau selesai akhir Mei mendatang. Meski begitu, secara keseluruhan, Endah optimistis mampu menyelesaikan proyek keseluruhan, yang terdiri dari empat paket, selesai tepat waktu, awal 2018 mendatang. “Paket I memang molor. Tapi kami konsisten akan menyelesaikan seluruh proyek bandara secara tepat waktu dan bisa dipakai awal 2018 mendatang,” tegasnya.
Untuk pengerjaan Paket II atau pembangunan apron, diakui Endah juga cukup terganggu dengan cuaca esktrim ini. Sebab, tempat pembangunan apron ini merupakan daerah rawan petir lantaran menempati lahan luas tanpa ada bangunan atau pohon. Praktis, ketika mendung dan muncul petir, seluruh armada langsung ditarik demi keamanan pekerja. “Semoga saja Paket II tidak ikut molor gara-gara cuaca. Soalnya, data prakiraan cuaca dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) juga selalu bergerak. Dulu, curah hujan terginggi terjadi di pertengahan Februari. Tapi sampai sekarang, masih saja tinggi,” tuturnya.
Mengenai Paket III, dikatkaan Endah, masih dalam persiapan pelelangan. Proses ini memang sedikit molor karena ada perubahan perencanaan luas lahan. Dari 40 ribu meter persegi menjadi 58 ribu meter persegi. Praktis, ada jeda waktu untuk me-review desain. “Bagaimana pun, karena luasnya beda, desainnya juga harus diubah. Mengenai pembengkakan biaya, kami belum bisa memberi informasi. Yang jelas, total anggaran masih seperti rencana semula, yaitu Rp1,9 triliun,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekda Jateng, Sri Puryono menegaskan, proyek pengembangan Bandara Ahmad Yani tidak boleh molor. Sebab, fasilitas bandara di Kota Semarang sebagai ibu kota provinsi sudah cukup tertinggal dari provinsi lain. (MJ-47)

Comments are closed.