GROBOGAN, Mediajateng.net – Minimnya ketersediaan air juga dirasakan ratusan orangbyang tinggal di sejumlah desa di Kecamatan Tanggungharjo.

Karenanya, Perum Perhutani melakukan bakti sosial dropping air ke Desa Tanggunghajo dan Ringinpitu.

Kepada Mediajateng.net, Sabtu (29/9/18) dijelasksn, kegiatan bertajuk, KPH Semarang Peduli Kekeringan, dipimpin langsung Administratur KKPH Semarang,  A.  Fadjar Agung Susetyo.

“Kita membagikan air bersih sebanyak 8 tangki untuk masyarakat desa hutan di 3 desa, meliputi dukuh Karanggetas Desa Ringinpitu, dukuh Ngetuk, Desa Tanggungharjo dan dukuh Mrisi, Desa Mrisi di Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan,” katanya.

Tiga desa, merupakan tiga desa yang berbatasan langsung dengan wilayah huyan. Dimana, desa di sekitat hutan merupakan desa terdampak kekeringan paling parah di Kabuoaten Grobogan.

Dropping dilakukan secara langsung petugas Perum Perhutani ke masyarakat desa. Dimana, bantuan yang tiba langsung disambut dengan puluhan wadah berbagai ukuran.

Datangnya bantuan, disambut positif warga. Dimana,  Kepala Desa Ringinpitilu, Tulus Suprayitno, berharap bantuan bisa berkesinambungan. Dimana, Desa Ringinpitu menjadi wilayah yang terkena dampak ektrim kekeringan di musik kemarau.

Kendati begitu, datangnya bantuan seakan jarang dilakukan mengingat posisi desa yang jauh dari pusat pemerintahan di Kabupaten Grobogan.

“Diharapkan bantuan bisa berkelanjutan pada tahun tahun berikutnya mengingat daerah sekitar Ringinpitu daerah minim air bersih,” katanya.

Kepala KPH Semarang, Fadjar Agung Susetyo menambahksn kegiatan bantuan air bersih ini merupakan bentuk kepedulian Perum Perhutani kepada masyarakat desa hutan yang mengalami kesulitan pasokam air bersih akibat musin kemarau yang panjang. 

“Kegiatan ini sekaligus wujud pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan KPH Semarang yang dilaksanakan rutin tiap tahun,  disampaikan pula kepada masyarakat,” tambahnya.

Kekeringan di tiga desa tersebut makin menjadi paska bergantinya lahan hutan menjadi lahan pertanian. Dimana, rata-raya pohon yang di tahun 90-an hampir mencapai diamater 1 meter namun saat ini telah berubah menjadi lahan jagung. 

Karenanya, kendati sektor pertanian meningkat namun daerah serapan air hilang. Kondisi itu, berpotensi lebih parah jika pembangunan pabrik pengolahan semen tidak diikuti dengan pembangunan kawasan penyangga air. Ag-mj

Comments are closed.