SEMARANG – mediajatengnet

Petugas Unit Reserse Kriminal Polsek Gayamsari berhasil membongkar praktik peredaran obat daftar G atau pil koplo jenis Trihex yang dijual tanpa resep dokter di wilayah hukum Polsek tersebut. Dalam penankapan tersebut petugas membekuk Sri Yulianto (44), warga Kimar, Pandean Lamper Gayamsari kota Semarang yang bertindak sebagai pengedar dan Harli Dafidson (32), warga Trengguli, Semarang Tengah yang merupakan pemasok pil koplo tersebut.

Selain mengamankan dua pelaku Polisi barang bukti berupa dua botol berisi ribuan pil berlambang Y dan 
tujuh paket pil koplo siap edar serta uang hasil penjualan,  keduanya yang tertangkap terpisah di rumah mereka masing-masing pada Rabu (25/10) malam dibawa ke Mapolsek untuk diperiksa lebih lanjut.

Kapolsek Gayamsari Kompol Wahyuni Sri Lestari mengatakan, kasus tersebut terbongkar setelah pihaknya mendapat informasi adanya transkasi obat yang biasa digunakan oleh pelaku kejahatan, di Jalan Kimar, Pandean Lamper, Gayamsari, Rabu (25/10) sekitar pukul 20.00.

“Informasi itu kami tindak 
lanjuti dengan mengerahkan sejumlah anggota Reskrim untuk memantau pergerekan di lokasi tersebut,” ungkapnya saat gelar 
perkara di Mapolsek Gayamsari, Selasa(31/10) siang.

Beberapa menit setelah melakukan pantuan, lanjut dia, pihaknya melihat 
ada seseorang yang dengan gerak-gerik mencurigakan masuk ke dalam salah satu rumah di lokasi tersebut.

“Awalnya kami biarkan tapi setelah keluar rumah kami langsung amankan DS (28). Saat dilakukan pemeriksaan kami menemukan 2 plastik atau paket 

berisi 10 butir pil koplo tersebut per paketnya. Dia (DS-red) mengaku kalau itu dibeli dari Sri Yulianto pemilik rumah 
tersebut,” jelasnya. 

Tak menunggu lama pihakya langsung bergerak masuk ke rumah hingga melakukan penggeledahan dan menemukan lima paket pil koplo siap edar dan dua botol pil koplo ribuan butir. “Kami langsung amankan Sri Yulianto berikut barang buktinya itu,” ungkapnya. 

Kapolsek membeberkan, Sri yang langsung diperiksa mengaku kalau obat tersebut didapat atau dipasok oleh Harli rekan yang sudah dikenal lama.

“Dari pengakuan itu kami langsung bergerak hingga beberapa jam kemudian orang yang dimaksud (Harli-red) 
kami tangkap,” ujarnya.

Sementara itu Sri Yulianto mengaku, mengedarkan pil koplo tersebut sudah dilakukkan dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini

“Sejak 2016 saya menjual obat-obatan ini, ya karena butuh uang untuk tambah-tambah beli kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Diakuinya, dengan menjual obat terbut dia bisa mengantongi keuntungan Rp 300 ribu per botol.

“Per satu botol isinya itu 1000 butir, kalau satu botol habis dijual saya mendapat keuntungan Rp 300 ribu. Biasanya satu bulan itu bisa menjual 4 sampai 5 botol, tapi cara menjualnya saya pecah per plastik, satu plastiknya berisi 10 butir saya jual Rp 10 ribu,” ungkapnya.(MJ-303)