GROBOGAN, Mediajateng.net – DI usia KE 293, momentum hiburan rakyat hingga reliji digelar Pemerintah Kabupaten Grobogan.

Dimana, peringatan hari jadi tersebut dimulai dengan kegiatan upacara di Alun-alun Purwodadi, Senin (4/3), kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam leluhur pendiri Kabupaten Grobogan.

Ziarah, dilakukan di makam Ki Ageng Getas Pendowo, Pangeran Puger, Ki Ageng Selo dan juga Ki Ageng Tarub. Prosesi ziarah, dilakukan dengan membagi sejumlah pejabat di Kabupaten Grobogan. Dimana, Bupati Sri Sumarni berkesempatan untuk ziarah ke makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo.

Di dampingi Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto, Ketua Kejari Grobogan Puji Triasmoro, Wakapolres Grobogan Kompol Dwi Hendro serta para pejabat OPD, Camat, Direktur BUMN dan BUMN juga kepala desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat se Kabupaten Grobogan, Bupati memasuki kompleks makam Ki Ageng Selo.

Berada di depan makam Ki Ageng Selo, Bupati melakukan doa bersama dilanjutkan dengan tabur bunga. Selesai upacara tabur bunga, Bupati berkesempatan untuk menikmati jamuan yang dipersiapkan masyarakat Desa Selo. Terlihat, Bupati menikmati buah pisang.

Di kesempatan itu juga, Sri Sumarni menyatakan harapannya terkait peringatan hari jadi Grobogan ke 293 ini. Menurut dia, pada peringatan hari jadi tahun ini memnjadi momentum penting bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Grobogan.

“Hari jadi Kabupaten Grobogan tahun ini menjadi momentum bagi seluruh elemen msyarakat dan Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk bahu-membahu, bergotong royong, sak iyek saekoproyo dalam upaya mewujudkan masyarakat Kabupaten Grobogan yang sejahtera secara utuh dan menyeluruh,” harap Bupati.

Di samping itu, Sri Sumarni juga menceritakan sejarah Hari Jadi Kabupaten Grobogan yang jatuh pada Senin Kliwon 21 Jumadil Akhir 1850 atau secara penanggalan Masehi pada 4 Maret 1726 ditandai dengan pengangkatan abdi berjasa kepada Sunan Amangkurat IV yakni Ngabehi Wongsodipo yang kemudian menjadi Bupati Monconagari Grobogan.

“Nama tersebut lebih dikenal dengan nama Raden Tumenggung Martopuro atau Adipati Puger. Saat itulah ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Grobogan karena telah ada dan jelas perangkat yang disyaratkan menjadi sebuah Kabupaten yaitu wilayah, rakyat dan pemerintah,” tambah Sri Sumarni.

Selain itu, ia menambahkan tradisi ini dilaksanakan untuk mengingatkan sejarah perjuangan para pendahulu dan mengenang jasa-jasanya dalam syiar agama serta berdirinya Kabupaten Grobogan ini. “Kita sebagai generasi penerus diberikan kesehatan, kekuatan, kemudahan dan keselamatan dalam melanjutkan perjuangan mereka dalam mewujudkan Kabupaten Grobogan yang lebih sejahtera,” ungkapnya.

Selain ziarah, kegiatan ini dirangkaikan dengan bakti sosial yakni memberikan bingkisan kepada 50 warga kurang mampu yang tinggal di sekitar makam. Diharapkan, dari kegiatan bakti sosial ini dapat memberi manfaat bagi yang berhak menerimanya.

“Pada rangkaian hari jadi ini, kami juga memberikan bakti sosial kepada 50 warga kurang mampu yang tinggal di sekitar makam. Saya berharap bingkisan yang kami berikan ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita tersebut,” pungkas Sri Sumarni. mj/ag