SEMARANG,Mediajateng.net-Menurut catatan WHO, Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan Brasil sebagai negara yang warganya banyak mengidap penyakit kusta.Kusta atau lepra dikenal sebagai salah satu penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae dan ditakuti masyarakat karena dampaknya yang fatal, yakni bisa menyebabkan kecacatan fisik.

Hal itu diungkapkan Dr. dr. Renni Yuniati ,SpKK pada Simposium “Tata Laksana Terbaru Kelainan Kulit, Kuku, dan Rambut” yang diprakarsai Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Kota Semarang.

Pemahaman yang masih minim atas penyakit kusta ini menjadikan persoalan semakin pelik karena masyarakat cenderung menghindari pengidap kusta sehingga membuat penderita semakin terkucil. mengingat selama ini banyak penderita kusta yang berobat saat sudah stadium berat dan sulit diobati.

“Pemahaman masyarakat yang kurang mengenai kusta menjadikan keberhasilan pengobatan rendah. Padahal, kusta bisa disembuhkan total dengan pengobatan intens selama setahun,” kata Dr. dr. Renni Yuniati ,SpKK

“Penyakit kusta bisa dialami seluruh kalangan, bukan hanya dari kalangan tidak mampu tetapi dari berbagai lapisan seperti guru, pegawai negeri sipil (PNS), hingga polisi.” Jelas Renny yang juga Sekretaris Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) Kota Semarang itu.

Masa inkubasi bakteri kusta yang bervariasi antara 2-40 tahun menjadikan banyak yang tidak tahu jika sudah tertular penyakit. Seringkali masyarakat mengabaikan gejala awal pada kusta, yakni bercak putih pada kulit yang mirip seperti panu. Namun yang membedakan adalah panu biasanya disertai gatal, sedangkan pada kusta relatif tidak berasa.

“Penderita kusta harus menjalani pengobatan secara rutin dalam jangka satu tahun. Namun, banyak kasus, penderita menghentikan pengobatan karena muncul reaksi alergi, padahal penghentian pengobatan justru bisa berakibat kecacatan. Jadi, alergi itu harus dihadapi karena bagian dari penyembuhan” Terang perempuan kelahiran Solo, 23 Juli 1972 yang mengambil disertasi mengenai kusta di Universitas Airlangga Surabaya itu.

Renni mengatakan pengobatan kusta selama ini menggunakan obat bernama Lampren dan Dapsone sesuai dengan anjuran WHO. “Obat ini sudah tersedia di apotek-apotek dan rumah sakit yang bisa diperoleh secara gratis. Kemudian, untuk pengobatan reaksi alergi atau peradangannya menggunakan obat bernama Prednison,” Pungkasnya.(MJ.1)

4 KOMENTAR

  1. ผู้นำด้านที่ปรึกษาการตลาดออนไลน์ของไทย เพิ่มไลค์ ปั้มไลค์แฟนเพจ รับเพิ่มไลค์แฟนเพจ เพิ่มยอดไลค์ ปั้มไลค์ ปั้มไลค์คนไทย

  2. ปั๊มไลค์แฟนเพจ, ไลค์เพจ, เพิ่มไลค์เพจ, ปั๊มไลค์เพจ, ปั๊มไลค์เพจ facebook, ปั๊มไลค์เพจ, ปั้มเพจ, ปั้มไลค์แฟนเพจ, เพิ่มไลค์แฟนเพจ, เพิ่มไลค์เพจ ราคาถูก, ปั้มไลค์เพจ

  3. Auto Liker, Status Liker, Fb Autoliker, Autoliker, Status Auto Liker, Facebook Auto Liker, Autoliker, auto liker, Autoliker Facebook, Auto Like, auto like, Facebook Liker, autolike, autoliker, facebook auto liker, Working Auto Liker, Photo Liker, Photo Auto Liker, Increase Facebook Likes, Facebook Autoliker

Comments are closed.