DEMAK, Mediajateng.net – Menjelang Ramadhan, komplek makam Sunan Kalijaga Kadilangu Demak, dilakukan pemugaran. Pemugaran salah satu obyek wisata religi di Kota Wali tersebut diprotes Yayasan Sunan Kalijogo Demak.

Kegiatan pembangunan di area makam leluhur keturunan Sunan Kalijaga itu dinilai ilegal. Pasalnya tidak ada komunikasi secara kelembagaan oleh pelaksana pembangunan, terkait perbaikan pagar, selasar dan sirap pada makam Pangeran Wijil V.

Pembina Yayasan Sunan Kalijogo Demak, R Agus Supriyanto menyatakan
keprihatinannya terhadap pembongkaran di areal makam Sunan Kalijaga serta perbaikan sejumlah bangunan.

“Makam Sunan Kalijaga itu salah satu situs cagar budaya. Jangan asal pugar, kalau mau dipugar, mestinya lapor ke Balai Pelestarian Pelestatian Cagar Budaya Jawa Tengah sebagai institusi yang melindungi cagar budaya nasional. Situs itu bukan milik pribadi, asal bongkar saja,” kata R Agus, Senin (29/4/2019).

Menurut Agus, makam Sunan Kalijaga telah ditetapkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidilan dan Kebudayaan sebagai Situs Cagar Budaya, sesuai UU RI Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Karena itu segala hal yang ada di lingkungan makam wali itu dilindungi oleh UU.

“Termasuk Masjid Sunan Kalijaga yang ada di sisi timur, yang merupakan peninggalan Sunan Kalijaga, kalau mau dipugar harus ijin Balai Pelestarian Cagar Budaya,” tandasnya.

Sementara itu, menurut Ketua Yayasan Sunan Kalijogo Demak, R Purwo Adi Nugroho, proses pembangunan tembok pagar, selasar serta sirap makam Pangeran Wijil V dinilai menyalahi aturan.

Selain itu, pendanannya juga dilakukan oleh pihak asing (seorang Malaysia) dan tidak pernah dikomunikasikan terlebih dahulu dengan Yayasan Sunan Kalijogo Demak, yang secara kelembagaan resmi mengurusi makam Sunan Kalijaga.

“Kami yakin pemugaran itu tanpa ada laporan atau ijin Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah,” ungkap Adi.

Adi menambahkan, perbaikan atau pembangunan makam dan masjid Sunan Kalijaga yang disebutkan senilai miliaran rupiah dikerjakan oleh tukang biasa dan bukan profesional di bidang cagar budaya. Sehingga kondisi tersebut semakin meyakinkan Yayasan Sunan Kalijogo Demak, adanya kesengajaan pihak asing menghancurkan situs dan memecah belah ahli waris Sunan Kalijaga lewat sumbangan ‘dana bantuan pembangunan’.

“Kesannya memang membantu atau menyumbang dana untuk pembangunan makam dan masjid Sunan Kalijaga. Namun sebenarnya justru terindikasi ada niat menghancurkan situs cagar budaya nasional yang tentunya bersejarah,” ujar Adi.

Salah satu pekerja, Suroso, mengaku tidak tahu menahu terkait ijin pemugaran di situs Makam Sunan Kalijaga. Dia bersama teman – temannya hanya sebatas mengerjakan proyek pembangunan di komplek makam Sunan Kalijaga atas permintaan seseorang.

“Tidak ada makam yang dibongkar, hanya lantainya diganti keramik, saluran air diperbaiki dibuang ke sungai, pagarnya juga diperbaiki, sirap makam Pangeran Wijil V diganti karena sudah lapuk,” kata Suroso.

“Kami disuruh Pak Didik. Yang memerintahkan, yang belanja semua Pak Didik,” lanjutnya.