DEMAK, Mediajateng.net – Yayasan Sunan Kalijaga Kadilangu menolak adanya kegiatan Gebyar Idhul Adha yang rencananya digelar 25 Agustus 2018 mendatang di Kelurahan Kadilangu, Demak.

Selain pihak yayasan, ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga yang tergabung dalam Lembaga Adat Kadilangu, juga meyatakan sikapnya menolak kegiatan gebyar Idhul Adha tersebut.

Gebyar Idul Adha yang dikemas pembagian daging kurban dan pemberian dorprise itu, digelar oleh sejumlah oknum yang mengatasnamakan ahli waris Kadilangu bersama masyarakat.

Penolakan tersebut didasari karena adanya campur tangan pihak asing dalam kegiatan itu.

“Semua ahli waris menolak kegiatan itu. Jangan mengatasnamakan ahli waris dan masyarakat Kadilangu, yang sebagian besar tidak tahu dan tidak setuju dengan acara itu. Ada motivasi apa, sehingga acara tersebut sepertinya dipaksakan, ” kata R Agus Supriyanto, Ketua Yayasan Sunan Kalijaga Kadilangu, dalam jumpa pers di Gedung Pangeranan, Kadilangu, Senin (13/8/2018).

Informasi yang dihimpun, Azhar bin Wahab, seorang warga Malaysia membiayai semua kegiatan gebyar Idhul Adha tersebut termasuk menyumbang 22 ekor sapi kurban.

Pria yang mengaku sebagai bangsawan asal Kelantan dan bergelar Yang Mulia Datu Tuan Raja Azhar Bin Yang Mulia Datu Raja Wahab ini, mengaku sebagai keturunan dari Sunan Kalijaga.

Dia telah mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Raja Sakti At Thomim Sunan Kalijaga untuk menyalurkan bantuan sapi tersebut.

“Azhar bin Wahab ini bukan ahli waris Sunan Kalijaga. Tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali. Dan dia bukan raja,” tegas R Agus, yang juga Sekretaris Lembaga Adat Kadilangu.

R Agus sangat menyayangkan sikap pemerintah Kabupaten Demak yang menerima begitu saja adanya kegiatan itu, padahal kerajaan Malaysia dengan tegas melarang bahkan mengharamkan segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh Azhar bin Wahab.

“Sangat disayangkan Pak Ganjar dan Pak Natsir, mudah dibohongi oleh mantan napi, hanya iming – iming 10 kebo (kerbau),” sesalnya.

R Agus mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga Demak agar berfikir positif tentang kegiatan gebayar Idhul Adha tersebut, yang kenyataannya ditumpangi oleh aksi dari Azhar bin Wahab.

Sungguh memprihatinkan apabila Azhar bin Wahab diberi ruang dan panggung kehormatan di Kadilangu, tentunya akan menjadi bahan pertanyaan baik di instansi berwenang maupun ormas Islam di Demak.

“Tidak ada makan siang gratis. Dia itu Wahabi, ke Demak mau merusak Islam Indonesia,” tandasnya.

“Sudah menjadi tanggungjawab kita selaku ahli waris Sunan Kalijaga untuk mempertahankan dan melestarikan ajaran beliau yang berlandaskan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah,” tutup R Agus, Keturunan Sunan Kalijaga ke 16.