Semarang-mediajateng.net .

Konflik dan gesekan yang terjadi antara pengemudi Ojek Online dan ojek konvesional dan angkutan taksi, akhirnya terjadi di kota Semarang. Hal ini menurut pakar transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijawarno memang sudah diprediksikan sebelumnya. Bahkan setahun lalu, Djoko pernah mengingatkan pemerintah kota Semarang untuk tidak memberi kesempatan bagi ojek online untuk beroperasi, karena pasti akan menjadi masalah.

“Belajarlah dari pemerintah kota Solo yang melarang gojek dan taksi online beroperasi.” katanya.

Menurutnya akar konflik yang terjadi bersumber dari buruknya layanan transportasi umum di kota Semarang sendiri. Teknologi digital kreatif memang menjadi kemajuan dan kebutuhan. Namun tidak dapat diperlakukan sama di sektor transportasi. Prinsip keselamatan, keamanan dan kenyamanan menjadi perhatian utama. “Murah bukan berarti mengambaikan keselamatan, keamanan, dan kenyaman.” tambahnya

Konflik keduanya mengundang banyak kekecewaan di tengah masyarakat kota Semarang yang melihat. Kehadiran ojek online menurut Inti, warga Semarang Barat, sangat bermanfaat sekali disaat darurat.

“Jika ingin dibenahi, angkutan umum di kota Semarang harus bisa berinovasi menjadi andalan masyarakat. Bisa on time mengantar penumpang sampai tempat tujuan” tegasnya (MJ-202)