SEMARANG, Mediajateng.net, – Di hadapan sekitar 3.906 mahasiswa baru Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Senin(2/9) Wali kota Semarang Hendrar Prihadi membagi pengalamannya semasa kuliah 29 tahun silam di Unika Soegijopranoto.

Tidak hanya itu saja, Hendi sapaan akrab wali kota juga mengungkap kisah dirinya yang seperti kebanyakan anak dari keluarga dan orang biasa hingga kemudian dipercaya menjabat sebagai Wali kota Semarang.

Dalam talkshow bertema “Mewujudkan Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro yang Cerdas, Berkarakter dan Berintegritas”, Hendi sedikit banyak meluruskan anggapan miring dan negatif tentang dunia politik.

Beberapa mahasiswa baru yang ditanyainya, mayoritas mengamini bahwa politik sangat dekat dengan perilaku licik, korup dan anggapan buruk lainnya. Diakui Hendi, pemahaman yang sama sempat dirasakannya hingga kemudian memantapkan diri berkecimpung dengan dunia politik pada tahun 2004.

“Awalnya saya juga berpikir di dunia politik itu ada sikap saling tikam dan korupsi. Tapi kemudian saya juga berpikir bahwa sikap-sikap seperti itu bisa terjadi di bidang kerja apapun, tidak hanya di dunia politik saja,” tegas Hendi.

Semuanya, tegas Hendi, tergantung diri kita sendiri dalam memilih bersikap. Setelah berproses, Hendi justru merasakan sisi lain politik sebagai seni dalam menyampaikan program dan kebijakan kepada konstituen, serta dapat lebih banyak membantu masyarakat.

Dipertegas Hendi, tanpa harus menggunakan cara-cara licik dan negatif, dirinya bisa tetap bertahan bahkan dipercaya menempati posisi-posisi strategis. Mulai tahun 2009, kemudian Hendi dipercaya maju dan menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah hingga kemudian menjadi Wakil Wali kota pada tahun 2010 dan juga Walikota Semarang di tahun 2016.

Karenanya, Hendi mengajak seluruh mahasiswa baru untuk optimis dan mempersiapkan diri dalam menangkap setiap peluang masa depan. Diyakinkan Hendi, para pemuda termasuk mahasiswa baru Udinus adalah bagian yang menentukan sukses Indonesia yang diprediksi akan masuk sebagai best 5 economic in the world pada tahun 2024.

Tiga syaratnya, menurut Hendi adalah menjadi anak muda yang kompetitif dengan skill formal dan informal, kondisi politik dan ketahanan nasional yang kondusif serta ekonomi yang baik sehingga memungkinkan pembangunan berjalan lancar.

Keberadaan mahasiswa baru Udinus yang akrab dengan dunia Teknologi Informasi, dinilai wali kota memiliki peluang tersendiri untuk kemunculan start up bisnis baru. Yang terpenting, lanjutnya, adalah ide, kreativitas serta memperkaya diri dengan skill yang terus diasah. “Bagaikan berlian, skill yang terasah semakin membuat berlian berkilauan dan sukses,” pungkas Hendi. (ot/mj)