SEMARANG, mediajateng.net – Universitas Semarang (USM) menggelar Seminar Nasional dengan tema “Kompleksitas Ideologi Pancasila di Era Millenial” di Aula gedung V Lantai 6 USM (16/3).

Hadir sebagai pembicara yakni Prof Dr Mohammad Mahfud Md (Anggota Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), Prof Dr H Muladi SH (Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip), Irjen Pol Drs Condro Kirono (Kapolda Jateng) dengan dipandu oleh moderator Yosep Parera SH MH.

Rektor USM Andy Kridasusila menyampaikan antusias kepada para pembicara dan para peserta yang hingga mencapai 550 dari berbagai lapisan masyarakat. Selain seminar, juga dilakukan penandatanganan Mou antara USM dengan Ikatan Alumni Lemhanas (IKAL) Komisarit Jawa Tengah.

“USM berkomitmen akan melakukan investasi untuk generasi muda yang akan berperan dalam aktivitas keseharian dimanapun berada. Dengan begitu, perguruan tinggi merupakan salah satu upaya dalam mencerdaskan anak bangsa karena bangsa tergantung pada generasi muda,” ujarnya dalam sambutan.

Sebagai salah satu pembicara, Mahfud Md mengatakan, sekarang ini banyak masalah kompleksitas Ideologi Pancasila di era milenial. Untuk menyikapi hal tersebut menurutnya, jika menerima informasi tidak boleh langsung diterima.

“Setiap informasi tetapi dikritisi, harus selektif sesuai dengan Ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila sebagai tempat kembali,” katanya berpesan.

Dalam kesempatan tersebut, Mahfud juga memotivasi bahwa Indonesia bersama Pancasila menolak radikalisme dan fanatisme karena Pancasila adalah dalam kemajemukan bangsa Indonesia.

Berbeda dengan Irjen Pol Drs Condro Kirono yang menyampaikan terkait praktek yang berkaitan dengan tugas kepolisian di era milenial. Hal itu kata Kapolda, telah diaplikasikan dalam penangkapan ISIS yang ingin mengubah Ideologi Pancasila.

“Padahal Ideologi Pancasila tidak dibuat melainkan sudah ada sejak dahulu sehingga Pancasila sebagai alat pemersatu . Dan tugas dari aparatur adalah mengayomi dan melindungi serta bekerjasama dengan komunitas  dan melalui pendekatan masyarakat,” katanya.

Sementara itu Prof Dr Muladi SH mengaku bahwa kompleksitas Ideologi bangsa selalu mengandung indikator tentang makna antar hubugan nilai-nilai sosial budaya dalam suatu negara yang akan mempengaruhi cara berfikir secara keseluruhan dalam mengelola suatu Negara.

”Termasuk pendekatan sistem yang harus dilakukan secara komprehensif integral untuk mencapai efek positif maksimal yang diharapkan,” pungkasnya. (ot/mj)