Usai sah menikah. Pasangan asal Kabupaten Grobogan harus hidup terpisah beberapa bulan. Foto : Ist-agung/mj

GROBOGAN, Mediajateng.net- Membangun keluarga yang bahagia bersama padangan menjadi impian semua orang.

Harapan hidup dalam satu bahtera rumah tangga dengan ikatan pernikahan menjadi pintu terbangunnya harapan yang selalu didambakan.

Begitu juga yang diharapkan oleh Asep dan Fitri. Pasangan asal Kabupaten Grobogan ini tampak sedikit kaku layaknya pasangan yang akan menikah.

Balutan baju bernuansa modern, membuat Fitri dapat mengimbangi langkah cepat Asep, yang hitungan menit akan menjadi pasanganya.

Diarak keluarga dan rombongan besan ke dalam masjid tempat janji pernikahan diucapkan, menjadikan kedua insan ini makin tampak tegang.

Berbeda dengan pasangan lain, ketegangan tidak saja murni karena mereka akan memasuki dunia berbeda yakni dari satu dunia menjadi dua dunia yang dipersatukan.

Namun, ketegangan makin bertambah lantaran prosesi pernikahan digelar di Masjid Baiturahman, komplek Mapolres Grobogan.

Bukan karena keduanya mengidamkan pernikahan nuansa semi militer atau karena keduanya adalah anggota Kepolisian. Namun, prosesi suci digelar di Mapolres lantaran Asep harus menjalani resiko hukum lantaran telah melakukan tindak kriminal perjudian.

Kasus yang harus dijalani, tentu tidak bisa membatalkan rencana pernikahan warga Grobogan dan Kabupaten Pati ini. Pasalnya, tanggal pernikahan sudah ditentukan dan keseriusan dibuktikan dengan penyebaran undangan.

Kendati berjalan lancar, namun masalah tidak juga habis disitu. Pasalnya, usai sah menjadi suami istri keduanya harus ‘dipisahkan’ kembali.

Tentu bukan perceraian atau karena ada larangan adat, namun sang suami harus kembali lagi masuk bui dan sang wanita harus pulang ke rumah orang tua untuk menunggu sang suami pulang.

Kasus pernikahan di kantor Kepolisian memang bukan hal asing. Sejumlah muda mudi yang telah menentukan waktu pernikahan dan terjerat kasus terpaksa harus mengucap janji pernikahan di kantor polisi.

Namun, di Kepolisian Resor Grobogan menggelar akad nikah untuk tahanannya baru pertama dilakukan.

Pernikahan yang digelar secara sederhana tersebut dilaksanakan di masjid Baiturahman Polres Grobogan dengan disaksikan keluarga kedua mempelai.

Meski sederhana rupanya pernikahan ini menjadi makna tersendiri bagi mempelai wanita, karena status mempelai pria adalah tersangka.

“Saya terima nikah dan kawinnya, Fitri dengan mas kawin uang tunai seratus ribu rupiah dibayar tunai,” kata Asep mengucapkan janji pernikahan, di Masjid Baiturahman Mapolres.

Setelah mengucapkan ijab qobul itu, air mata kedua pasangan Asep dan Fitri pun menetes di pipi usai mendengar sahutan ‘Sah’ dari saksi wali dan saksi pernikahan.

Tangisan pecah lantaran berbaurnya kebahagiaan bercampur bingung lantaran setelah sah namun keduanya harus kembali terpisah karena Asep harus mendekam di penjara.

Mempelai laki-laki Asep Farid warga Klambu tersandung kasus perjudian yang menikah dengan Fitri warga Sukolilo Pati, dengan berkas pemeriksaan sudah tahap satu di Kejaksaan Negeri Grobogan.

Kasat Tahti Polres Grobogan Iptu Pardi berharap, pernikahan dengan status tersangka di Mapolres Grobogan hanya dilaksanakan satu kali ini saja. Kepada Mediajateng.net, Jumat (8/2) kondisi ini tentu memunculkan tangis keharuan tidan saja di keluarga namun juga polisi yang melakukan penjagaan.

Setelah melakukan ijab kabul di hadapan saksi dan penghulu, mempelai pria pun kembali melakukan rutinitas seperti sebelumnya menjadi tahanan Mapolres Grobogan.

Dia terpaksa menikmati nuansa pengantin baru sendiri di sel tahanan mapolres setempat.ag/mj