GROBOGAN, Mediajateng.net – Ada yang unik dalam ibadah Natal di GKJ Purwodadi. Keunikan tersebut tidak lain terlihat pada Pohon Natal raksasa yang terbuat dari buah-buahan asli. Tidak seperti di gereja lain, usai kebaktian Natal, Selasa (25/12/2018), buah-buahan ini diserbu para jemaat gereja yang berlokasi di Jalan P. Tendean, Purwodadi.

“Tahun ini muncul ide pohon natal yang terbuat dari buah-buahan dibentuk seperti gunungan. Selama ini, saat perjamuan kasih Natal, menu yang disajikan tanpa sajian buah-buahan. Maka kita tambahkan sajian buah-buahan yang ditata ke dalam gunungan dan akhirnya menjadi pohon natal,” kata Pdt Tyas Legowo, sang pemberi ide pohon natal tersebut.

Bersama dengan makanan lain yang menjadi sajian dalam perjamuan kasih usai kebaktian, gunungan pohon natal ini disucikan sebelum diarak ke halaman gereja.

Para jemaat pun tak sabar meraih buah-buahan tersebut. Hingga akhirnya saat sudah sampai di halaman, mereka berebut mendapatkannya.

“Setelah sampai di halaman, jemaat langsung mengambil buah-buahan tersebut. Jadinya, buah-buahan ini cepat habis daripada menu makanan lainnya,” tutur Pdt Tyas.

Perjamuan kasih yang diselenggarakan usai kebaktian natal memang sudah menjadi rutinitas lima tahun terakhir di GKJ Purwodadi tersebut. Beragam jenis makanan rakyat disajikan untuk seribu orang. Siapapun berhak untuk ikut makan bersama. Termasuk mempersilakan masyarakat sekitar untuk makan bersama dengan jemaat.

“Makam bersama adalah lambang berbagi hidup. Tanpa makanan orang tidak bisa hidup. Sumber hidup sejati tentunya Tuhan Sang Pencipta. Wujud percaya pada pemeliharaanNya adalah mau berbagi hidup dan berbagi makan dengan siapa saja untuk semakin tumbuh kenbangkan persaudaraan sejati,” tambahnya.

Keunikan lain ditemukan pada liturgis malam Natal, Senin (24/12/2018). Meski hujan deras mengguyur Kota Purwodadi sejak sore hingga malam tetapi tidak menyurutkan langkah jemaat GKJ Purwodadi melakukan meditasi renungan kelahiran Kristus ke dunia. Dengan alunan musik kontemporer berbahasa Indonesia, acara tersebut berlangsung khidmat.

“Pada kebaktian natalnya, keunikannya yakni kebaktian dengan iringan gamelan dan menggunakan liturgis bahasa Jawa,” pungkas Pdt Tyas. (Ag-Mj)