Tersandera Ketidakjelasan Nasib, Para CPMI Korea Selatan Ingin Sampaikan Aspirasi

Tersandera Ketidakjelasan Nasib, Pekerja Migran Korea Selatan Ingin Sampaikan Aspirasi

Semarang, mediajateng.net – Belakangan ini sedang viral di berbagai media sosial mengenai rencana menyampaikan pendapat di muka umum yang akan dilakukan oleh para CPMI (Calon Pekerja Migran Indonesia) skema G To G Korea Selatan.

Berdasarkan penelusuran informasi di lapangan, hal ini dipicu karena belum dapat ditempatkannya para CPMI skema G To G Korea Selatan dalam kurun waktu lebih dari 1,5 tahun ini.

Rencana aksi menyampaikan pendapat di muka umum ini terus bergulir dan semakin membesar sebagai puncak dari kekecewaan dari para CPMI karena merasa tidak ada kejelasan mengenai nasib mereka.

Seperti disampaikan oleh Heru, salah satu CPMI G To G Korea Selatan asal Jogjakarta. Ia sudah mengikuti pelatihan  dan persiapan lainnya yang dibutuhkan agar bisa berangkat ke Korea Selatan.

“Kami sudah sangat lelah menunggu tanpa kepastian. Sudah banyak sekali pengorbanan yang kami lakukan baik biaya, waktu dan tenaga. Semua proses dan tahapan yang dipersyaratkan pun sudah kami penuhi semua, namun kapan kami dapat berangkat untuk bekerja ke Korea Selatan belum pasti kejelasanya,” ungkapnya.

Ia berharap Pemerintah dalam hal ini Kemnaker RI, BP2MI atau bahkan yang terhormat Presiden Joko Wiodo agar dapat membantu dengan dengan sungguh-sungguh dan mengupayakan untuk dapat segera dibuka kembali penempatan CPMI ke Korea Selatan.

“Dan jika memang aksi turun ke jalan ini merupakan jalan satu-satunya untuk pemerintah bisa mendengar keluh kesah kami, maka kami siap dengan segala resikonya,” katanya menambahkan.

Hal senada juga disampaikan oleh Azis Yuriyanto, salah satu pengelola Lembaga Pendidikan yang membidangi pelatihan Bahasa Korea, yang ditemui diruang kerjanya di Magelang, Jumat (18/9/2021).

“Banyak peserta didik kami yang merupakan CPMI Korea Selatan belum dapat tertempatkan. Kalau kemarin-kemarin alasanya karena pandemi Covid-19 mungkin masih dapat di terima oleh para CPMI. Namun pada saat ini sudah banyak negara dengan prosentase penambahan Covid yang lebih tinggi di banding negara Indonesia, namun sudah dapat menempatkan  kembali warganya untuk bekerja ke Korea Selatan,” ungkapnya.

Azis Yuriyanto menambahkan, saat ini para CPMI G To G Korea Selatan yang jumlahnya lebih dari 12 ribu orang membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah. Hal ini karena menyangkut masa depan dan hajat hidup orang banyak.

“Karena yang terdampak dari akibat belum dapat ditempatkannya para CPMI Korea Selatan ini bukan hanya CPMI itu sendiri saja, tapi memiliki efek domino sampai ke keluarga dari setiap CPMI itu sendiri yang menjadi tanggungan hidup dari para CPMI Korea Selatan, “imbuhnya.

Seperti diketahui, Korea Selatan menjadi salah satu pilihan favorit bagi CPMI untuk mengadu peruntungan di negara tersebut. Alasanya tak lain dan tak bukan karena selain pendapatan yang besar, jaminan keselamatan kerja yang baik menjadi daya tarik tersendiri bagi CPMI.

Para CPMI banyak berharap pada program penempatan G To G ini. Pemerintah sudah selayaknya mengupayakan sebaik mungkin apa yang menjadi permintaan dari para CPMI skema G To G Korea Selatan sebagai perwujudan amanah yang disematkan kepada para instansi terkait, tidak sekedar retorika atau pencitraan belaka.

Para CPMI tidak ingin kondisi ini dibiarkan berlarut larut tanpa ada perwujudan upaya yang nyata dari pihak-pihak terkait. Meski masih dalam suasana pandemi Covid-19, mereka ingin menyampaikan aspirasi salah satunya dengan aksi turun ke jalan yang menjadi hal paling realistis untuk dilakukan.(ot/mj)