Ternyata Ini Penyebab Panas dan Gerah Dua Bulan Terakhir

1

SEMARANG, Mediajateng.net – Jika beberapa waktu terakhir Anda merasa sangat gerah dan panas, tidak lain karena kelembaban udara mencapai 65 sampai 92 persen. Selain itu, dengan suhu panas antara 25 sampai 32 derajat celsius diyakini saat ini sebagai musim peralihan.
Tingginya suhu serta kelembaban udara tersebut sangatlah normal terjadi pada masa transisi musim. “Kencangnya angin dari laut ke darat membuat suhu panas yang ada di laut, dengan tekanan tinggi dibawa angin ke darat, sehingga daratan menjadi panas dan lembab,” demikian diungkapkan Prakirawan stakilm Semarang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikas (BMKG) Stasiun Klimatologi Klas I Semarang, Haryati, kemarin.
Memasuki musim kemarau lalu, lanjut Haryati, suhu udara di daratan akan menjadi lebih panas hingga angka 33 derat Celsius. Suhu panas tersebut terus akan meningkat pada awal musim kemarau, yakni kisaran awal Juni mendatang. “Kisaran suhu pada awal Juni nanti diangka 26 sampai 33 derajat celcius dan akan terus naik hingga puncak musim kemarau,” bebernya.
Untuk mengantisipasi suhu panas dan cuaca ekstrim yang bisa menyebabkan dehidrasi, dianjurkan kepada masyarakat untuk banyak mengkonsumsi air putih dan menghindari berpergian pada siang hari. “Suhu panas bisa diantispasi dengan penggunaan pelindung kulit, sehingga tidak akan terjadi dehidrasi dan aktivitas luar ruangan bisa dikerjakan pada pagi dan sore hari,” ungkap dia.
Meski kondisi udara dan kelembaban di daratan cukup panas, kata dia, di beberapa daerah masih akan turun hukan dengan intensitas sedang hingga tinnggi, namun dalam waktu yang singkat dengan curah hujan 50 – 100 milimeter. “Uap air di laut ikut terbawa angin ke daratan, sehingga masih akan turun hujan dengan angin kencang disertai adanya petir. Namun fenomena ini masih normal dan terus akan terjadi hingga dasarian III di bulan Mei (akhir Mei,red) sampai Juni awal,” tuturnya.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat ini sendiri selain di Semarang, juga akan terjadi di daerah lainnya seperti Jawa Tengah bagian barat dan tengah yang menyebabkan awal musim kemarau mundur.
Menurutnya, kemunduran musim ini juga dipengaruhi oleh uap air yang terbawa angin sehingga masih akan ditemui hujan pada Juni nanti. “Jateng bagian barat dan tangah, prediksinya akan masuk musim kemarau pada akhir Juni, sedangkan daerah Pati dan Rembang sudah mulai musim kemarau sejak April dasarian I dan dasarian III kemarin,” jelasnya. (MJ-069)