GROBOGAN, Mediajateng.net – Terminal Induk Purwodadi mulai didatangi calon pemudik yang hendak melakukan perjalanan balik sejak Lebaran hari keempat.

Dari pantauan Mediajateng.net, sejumlah calon pemudik yang hendak melakukan perjalanan balik tampak menunggu di terminal.

Tidak saja langsung, namun ada sebagian calon penumpang yang datang untuk sekedar mencari tiket karena kawatir kehabisan kursi.

Sebagaimana biasanya, harga tiket bus antar kota antar provinsi (AKAP) jurusan Purwodadi-Jakarta dan sekitarnya naik saat arus balik Lebaran.

Namun yang mengejutkan, Lebaran 2019, rata-rata kenaikan harga tiket bus tersebut tembus 100 persen dibanding harga normal.

Karenanya, kondisi iti sangat dikeluhkan calon penumpang yang hendak melakukan perjalanan balek ke Jakarta setelah merayakan lebaran di kampung. Kenaikan tarif tiket bus tersebut terjadi sejak hari Jumat (7/6) lalu.

Pada hari biasa harga tiket bus jurusan Jakarta untuk kelas AC 150 ribu rupiah, saat ini menjadi 300 ribu rupiah. Sedangkan untuk yang kelas biasa dengan tujuan yang sama sebesar 120 ribu rupiah menjadi 250 sampai 275 ribu rupiah.

Salah seorang calon penumpang Suwito (39), warga desa Boloh, Kecamatan Toroh, kepada Mediajateng.net mengungkapkan, bahwa kenaikan tarif tiket ini sangat membaratkan, namun tetap harus dibeli karena memang membutuhkan.

“Tiket kali ini mahal, tadi saya beli 300 ribu rupiah, dari yang biasanya 150 ribu rupiah, tapi mau tidak mau ya tetap saya bayar, soalnya saya mau pulang ke Jakarta,” aku Suwito sedikit kesal.

Sementara itu, Markamah salah satu petugas dari agen bus menjelaskan bahwa kenaikan tarif tiket bus adalah hal biasa jelang arus mudik maupun balik dan mereka hanya menjalankan peraturan dari perusahaan yang mempekerjakan mereka.

“Ya mas, harga tiket saat ini naik 100 persen, itu sudah aturan dari perusahaan, kami hanya menjalankannya saja,” jelas Markamah

Kepala Terminal Induk Purwodadi Bambang Ambar Widodo mengatakan, banyak armada yang mengalami keterlambatan, ini dikarenakan adanya pengalihan jalur dan terjadinya kemacetan di wilayah barat.

“Armada yang akan mengangkut penunmpang banyak mengalami keterlambatan, ini dikarenakan kemacetan di wilayah Pekalongan, kemudian ada pengalihan arus di wilayah Kendal,” pungkas Bambang Widodo (Ag-MJ)