Banyak pengamat politik dan sosial yang negatif thinking dalam menyikapi isu dan tuduhan terhadap KPU Curang. Saya berbeda pendapat tentang hal tersebut, untuk itu saya berusaha meneropong dari analisa secara positif (benar atau tidaknya bisa dilihat hasil akhir dan sikap kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) pada akhir episode Pileg dan Pilpres 22 Mei 2019).

Beberapa hal yang saya soroti dan teropong dari strategi BPN Timses Kubu Prabowo Sandi yaitu:

  1. Penerapan konsep efektifitas dan efisiensi biaya: dengan menciptakan narasi terjadi kecurangan pemilu maka secara cerdas BPN Prabowo Sandi telah menggerakan loyalisnya untuk turut andil dalam pengawasan tanpa mengeluarkan biaya dalam membuat jaringan saksi dan pengawas (secara otomatis loyalisnya bergerak bersama, dan hal tersebut cukup dengan mobilisasi isu dan tidak perlu menggerakan instituennya dengan komando menggunakan banyak dana). BPN Prabowo Sandi telah melakukan antisipasi membengkaknya biaya dan terbatasnya waktu, untuk membuat jaringan saksi dan pengawas internal baik dari relawan atau internal partai. Dinamika politik apakah itu Caleg atau Paslon Capres pasti membutuhkan waktu panjang dan dana yg cukup besar untuk membuat jaringan politiknya. BPN sukses membuat efektif dan efisiensi yang luar biasa.
  2. Hal yang juga berhasil dilakukan dalam target BPN Prabowo Sandi adalah membuat kinerja KPU menjadi super hati-hati, karena dengan menciptakan isu curang KPU dan Bawaslu harus kerja ekstra serta tidak boleh lengah (harus sedemikian teliti dan akurat). Opini dan isu curang tersebut, suka atau tidak suka dan mau atau tidak mau, maka hal tersebut telah membuat KPU, Bawaslu dan Pemerintah bekerja keras dan sungguh-sungguh, serta tidak boleh main-main (sebuah warning yang jitu dari BPN Prabowo Sandi). Pada akhirnya KPU, Bawaslu dan Pemerintah pontang panting dibuatnya. Bahkan sampai beratus ratus korban nyawa terjadi karena kelelahan.
  3. Penguatan dukungan loyalis, sekaligus dukungan eksternal dalam isu jihad. Sebenarnya yang dibangun oleh BPN Prabowo Sandi tidak sekedar pada dukungan moral atau dukungan gerakan tetapi yg cukup cerdas yaitu mampu menggalang dana loyalis ala PKS. Saya yakin penguatan dukungan loyalis penggalangan dana jelas copy paste model PKS. Kader-kader PKS telah tertanam bahwa infaq shodaqah dalam politik (siyasiyah) merupakan bagian dari da’wah dalam politik. Dalam ajaran tarbiyyah PKS hal itu merupakan jihad politik. Konsep PKS tanpa jihad Islam menjadi statis, tidak mampu merespon segala perkembangan zaman,PKS mampu meyakinkan bahwa Islam tidak dapat dipisahkan dari jihad. al-Jihad as-Siyasi (jihad Politik). Al-Jihad as-Siyasi dapat diartikan sebagai perjuangan di jalan Allah untuk menegakan tatanan pemerintahan Islam yang diridai Allah. Inilah yang digunakan BPN Prabowo Sandi untuk memotifais dan menggerakkan mass yang dahulunya golput (caranya dengan legalitas Ijtima’ Ulama”). Konsep itu sudah lama digunakan PKS di Turki. Seperti apa yang selama ini dikatakan Tayyip Erdogan “jika orang baik diam maka politik akan dikuasai kejahatan, untuk itu orang-orang baik harus melakukan jihad fisabilillah dalam politik” maka BPN Prabowo Sandi mampu mengadopsi hal tsb dalam membakar dan menggugah semangat loyalis serta pihak Islam seperti HTI, FPI dan Ormas Islam tertentu, yang selama ini golput.
  4. BPN Prabowo Sandi sengaja membangun narasi kecurangan dan isu-isu yg berbau sara. Untuk itu BPN harus menentukan arah tembak dan sasarannya yaitu KPU dan Bawaslu sekaligus arah tembak sasarannya adalah Pemerintah Jokowi JK sebagai incumbent. Posisi KPU dan Bawaslu sebagai lembaga pelaksana pemilu yang bertanggungjawab atas hal tersebut. Sekaligus hal itu tepat untuk menyerang Pemerintah, karena Jokowi adalah incumbent dan Presiden sebagai kepala Pemerintahan arahnya harus tanggungjawab atas hal tersebut. Di sinilah cerdasnya BPN yang telah melakukan narasi dan arah tembak yang tepat sasaran. Untuk melemahkan opini dan iklan-iklan keberhasilan pemerintah.
  5. Atas nama konsep Jihad ala PKS dan PAN maka BPN Prabowo Sandi mampu dan berhasil menggalang dana dari golongan ta’asub (asyobiyah atau fanatikisme jihad Islamiyah) dan sekaligus menarik pemilih yang dahulunya selalu golput (seperti HTI, FPI dan Ormas Islam tertentu) tidak sekedar untuk tidak golput, akan tetapi merapatkan barisan dukungan pada BPN Prabowo Sandi (sekaligus yang diuntungkan adalah PKS dan PAN). Di sisi lain mampu mengamankan suara dari goyongan dan goncangan opini publik yang dinamikanya mengarahkan dukungan pada incumbent (fakta-fakta pembangunan infrastruktur dan keberhasilan lain oleh incumbent hanya dapat dilawan dengan cara tsb). Seni poitik yang cerdas, terjal dan sangat berbahaya.
  6. Protektif terhadap loyalis dan narasi isu kecurangan merupakan narasi yang jitu “bukan kalah tetapi dicurangi” sehingga loyalis tetap fanatik dan yakin. Arahnya loyalis supaya tidak terombang ambing oleh kekalahan yang sesungguhnya sebagai sebuah fakta. Pada akhirnya loyalis aman dan tidak pindah haluan (arah dukungan).
  7. Hanya strategi itu yang benar-benar tepat untuk melawan Jokowi sebagai incumbent. BPN sebenarnya telah mengetahui suara mereka tidak akan lebih dari 30-35%. Maka hitung-hitungan BPN Prabwoo Sandi harus mampu mempertahankan dan mengamankan pemilih loyalitas, serta harus mampu memobilisasi mayarakat yang selama ini golput yg besarnya mencapai 30-40%. Dari hitungan inilah BPN Prabowo sandi memastikan jika mampu menggaet minimal 20-30% saja dari para Golput maka dia yakin akan mampu mendulang angka sampai plus minus 55-60%.
  8. Strategi BPN cerdas dan bagus (ingat bahwa politik tidak melarang strategi membangun opini), akan tetapi cukup terjal dan membahayakan perpecahan Masyarakat. Apalagi membumbuinya dengan isu people power. Saya yakin pada saatnya semua akan diralat dan akan baik-baik saja (kembali kedinamika politik praktis “sekarang lawan besuk kawan” atau sebaliknya).
  9. Pada akhirnya sekalipun hasil strategi bagus dan sudah maksimal ternyata tidak mampu untuk menjadi pemenangnya. Membuktikan bahwa dari para pemilih Golput ternyata tidak cukup signifikan (ada dari HTI, FPI dan Ormas Islam tertentu yang tetap golput) dan akhirnnya Paslon 02 tidak mampu mengalahkan incumbents Paslon 01 Jokowi KH Ma’ruf Amin.

Demikian analisa singkat ini semoga bermanfaat untuk kajian diskusi lebih lanjut.

 

Penulis : Dr Widhi Handoko, SH SpN

(Pengamat Politik, Dosen Fakultas Hukum Undip & Unissula)