SEMARANG,Mediajateng.net-Wacana penutupan Lokalisasi Sunan Kuning (SK) mendapat tanggapan dari beberapa praktisi yang berkecimpung dalam pendampingan pekerja seks komersial (PSK).Mereka mengkhawatirkan jika SK benar benar ditutup tanpa persiapan yang matang, maka akan terjadi banjir ciblek (PSK) di jalanan. bahkan para praktisi tersebut menantang Pemkot Semarang untuk membuat Perda yang menghukum para lelaki hidung belang.

“Kenapa yang gencar dipermasalahan tentang penutupan lokalisasinya dan bukan meributkan atau memuat terobosan pembuatan Peraturan Daerah (Perda) yang memberi hukuman kepada para laki-laki hidung belang yang jajan,” kritik Ari Istiyadi, Ketua LSM Lentera Asa, bidang pendampingan resiko tinggi para tuna susila.

Ari menambahkan, jika hanya menjadikan PSK sebagai sasaran penertiban dan mengekor kebijakan penutupan yang dilakukan di Jakarta dan Surabaya maka tidak ada bedanya.

“Jika Pemkot Semarang atau Pemprov Jateng mau gebrakan kenapa nggak buat Perda untuk mengancam laki-laki agar tidak jajan. Karena hukum pasar itu ada yang jual karena ada permintaan. Jika tidak ada laki-laki yang akan nakal tentu tidak akan ada PSK baik di lokalisasi, karaoke atau bahkan di hotel kresek maupun hotel mewah,” ungkap Ari.

Penutupan SK dan GBL, imbuh dia, dikhawatirkan akan menyebabkan sekitar 1.000 PSK mencari kerja di jalanan. Pasalnya, dari data Lentera Asa, PSK liar yang tersebar dari Penggaron hingga Mangkang mencapai 300 orang.

“Jika di SK ada lebih dari 500, GBL ada 125 dan di sekarang sudah ada sekitar 300 psk liar maka hampir 1.000 PSK liar akan kerja di jalanan. Bisa saja simpang lima kembali di penuhi Ciblek,” imbuhnya.(M.J070)

1 KOMENTAR

Comments are closed.