REMBANG, Mediajateng.net – Semen Gresik Virtual Competition (SGVC) mendorong generasi milenial ikut berkontribusi mengangkat potensi dan kearifan lokal di Kabupaten Rembang.

Selain lebih mengenalkan dan memberi nilai tambah bagi Batik Lasem khas Rembang, event bergengsi ini juga sekaligus untuk menyemangati gerakan literasi di Kota Garam.

Pagelaran SGVC terdiri dari dua event yakni Semen Gresik Tribute to Batik Lasem dan Semen Gresik Essay Competition. Kedua event ini digelar secara digital.

Untuk event Semen Gresik Tribute to Batik Lasem bertema “Redefining Semen Gresik Through The Beauty of Batik Lasem” tercatat ada 89 hasil karya level nasional dan 23 karya kategori lokal Rembang yang mengikuti event ini.

Sedang untuk event Semen Gresik Essay Competition bertema Sumbangsih Industri Hijau Bagi Pembangunan Daerah diikuti oleh 46 pelajar SMA atau sederajat dari wilayah Kabupaten Rembang.

Dalam event, dipilih lima nominator yang diwajibkan menyampaikan presentasi hasil karyanya langsung di hadapan dewan juri.

Kepala Departemen Komunikasi dan Hukum PT Semen Gresik Gatot Mardiana mengatakan generasi milenial adalah harapan masa depan.

“Oleh karena itu, jajarannya menggelar kegiatan yang bermanfaat untuk mengangkat potensi Rembang namun dengan cara yang identik dan khas anak-anak muda,” ungkapnya.

Gatot berharap event lomba desain motif Batik Lasem dengan cara digital tak hanya mampu mengangkat Batik Lasem, namun juga mampu menjadi jembatan penyambung proses regenerasi produk unggulan khas Rembang.

“Lomba karya tulis juga bagian dari upaya kita untuk menyemangati gerakan literasi khususnya di kalangan pelajar. Mereka aset masa depan jadi kita apresiasi dengan kedua event ini,” kata Gatot Mardiana.

Dewan juri Semen Gresik Essay Competition adalah jurnalis senior Gunawan Permadi, pakar komunikasi massa Gilang Desti Parahita dan Sekretaris daerah (Sekda) Rembang Subhakti.
Sedang dewan juri Semen Gresik Tribute to Batik Lasem terdiri dari sejarawan Lasem Edi Winarno, Hawien Wilopo (desainer/pelaku usaha Batik Lasem), Ny Khasiroh Hafidz (Ketua Dekranasda sekaligus Ibu Bupati Rembang) dan seniman Rembang, Abdul Khamim.

Setelah dilakukan penjurian, pemenang lomba desain motif Batik Lasem kategori nasional adalah Dwi Wahyu Subekti (juara 1), Safiratul Fitriya (juara 2) dan Rima Anggi (juara 3). Sedang kategori lokal adalah Hasna Putri (juara 1), Bambang Sokoguru (juara 2) dan Sri Murti Antini (juara 3).

Lomba karya tulis dimenangkan juara 1 Nadifa Laely (MA AL-Anwar Sarang), juara 2 Mamluatul Hikmah -(SMAN 1 Kragan), juara 3 Sekar Dian Fitriyani (SMAN 1 Kragan) dan juara favorit Shofiyatun Fadzillah (SMAN 2 Rembang).
Ditemui usai kegiatan, Hasna Putri tak menyangka karyanya berjudul “Naga Semen Gresik” bakal meraih juara 1 lomba desain motif Batik Lasem.

Apresiasi dari Semen Gresik diakui Hasna Putri kian menyemangatinya untuk lebih mencintai kearifan khas Rembang ini. Ia juga berencana kuliah di jurusan desain komunikasi visual kampus PTN di Yogyakarta agar bisa lebih mengembangkan kemampuannya.

“Saya sangat cinta Batik Lasem makanya ingin lebih mendalami lagi,” ujar remaja alumni SMA N 1 Rembang ini.

Nadhifa Laely juga mengaku kaget saat namanya diumumkan sebagai juara 1 lomba Semen Gresik Essay Competition. Pelajar kelas 11 MA Al Anwar Sarang ini menilai hobinya dalam dunia literasi tersalurkan berkat event yang digelar Semen Gresik.

“Kebetulan tema yang diangkat juga khas anak muda. Saya juga lebih faham tentang industri hijau dan sumbangsihnya bagi daerah setelah ikut lomba karya tulis ini,” ucap Nadhifa.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Rembang Ny Khasiroh Hafidz mengapresiasi kegiatan SGVC. Pihaknya berharap kegiatan serupa juga bisa digelar Semen Gresik. Tujuannya diarahkan untuk mendukung dan memajukan berbagai sektor di Kabupaten Rembang.

Ia mencontohkan lomba kuliner khas Rembang. Menurutnya event tersebut akan ikut mendongkrak sektor pariwisata yang sudah mulai moncer di Kota Garam. Khasiroh Khafidz yakin upaya tersebut juga akan mendorong berbagai sektor lain seperti UMKM yang ada di Rembang.

“Ujungnya bisa menggerakkan perekonomian, mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Selain itu juga bisa lebih mengenalkan potensi lokal sehingga anak-anak muda dan kalangan lain lebih cinta dengan apa yang ada di daerahnya,” tandas istri Bupati Rembang ini.mj/50