SEMARANG, Mediajateng.net – Orang akan bergidik ketika mendengar kata angker, misteri dan gaib. Namun, jika Anda bertemu Pamuji, pandangan tersebut akan pupus.

Rekan sejawatnya biasa memanggilnya dengan sebutan master. Dialah dedengkot Semarangker, komunitas penjelajah tempat-tempat angker dan penuh misteri.

“Kami mengajak masyarakat untuk memecahkan misteri tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap keramat bukan menggunakan hal-hal aneh, tapi menggunakan logika dan sesuai dengan ajaran agama,” katanya ketika berbincang dengan Mediajateng.net di markasnya Jalan Lamper Tengah, Semarang, baru-baru ini.

Komunitas yang berdiri tahun 2007 tersebut mulanya hanya sekumpulan orang-orang penakut, namun memiliki tingkat penasaran yang tinggi, terutama pada tempat-tempat yang dianggap keramat atau angker.

“Pada awalnya kami secara internal menjelajahi tempat-tempat angker di Semarang seperti Kota Lama, Lawang Sewu, area Hutan Tinjomoyo, Kawasan Puri Maerokoco dan lainnya,” katanya.

Karena intens berjelajah, katanya, akhirnya banyak kalangan yang tertarik untuk terlibat. Terlebih ketika tenar istilah uji nyali dan wisata malam.

“Hampir sebagian besar media televisi, cetak, online lokal maupun nasional pernah terlibat dalam acara kami. Juga masyarakat dari berbagai kalangan dan usia,” katanya.

Bahkan, lanjutnya, saat ini daya jelajah Semarangker bukan hanya di tanah Nusantara, tapi telah sampai di Malaysia, Jepang, Korea, Thailand, Cina, Australia bahkan Amerika.

Pamuji, dedengkot Komunitas Semarangker.

Sedemikian jauh jangkauan Semarangker, banyak kisah-kisah misteri maupun benda-benda yang diyakini memiliki tuah didapatkan. Mulai dari yang biasa sampai yang sudah diterima nalar.

“Kalau soal cerita misteri, selama itu masih di tanah Nusantara, karakter mistisnya hampir sama. Bahkan di Asia, mindset soal tempat angker dan hantu itu hampir sama. Beda cerita jika kita sudah sampai di benua lain, warga Eropa atau Amerika mereka tidak tahu pocong itu apa, genderuwo itu jenis apa. Maka mereka tidak punya memori takut tentang itu, atau mereka tidak punya kenangan bahwa itu ternyata adalah hantu. Ya karena berbeda,” katanya.

Untuk benda-benda bertuah, katanya, banyak ditemukan saat penjelajahan. Ada pula yang datang sendiri ke markasnya. Namun Pamuji beranggapan bahwa itu hal yang wajar, dan tidak mengganggap itu hal istimewa.

“Kantung Semar, misalnya. Kami punya itu. Kata orang, jika punya itu bisa berpindah-pindah kemanapun. Tapi di sini ya itu jadi koleksi yang biasa,” katanya.

Benar saja, ketika Mediajateng.net menyambangi colection room milik Semarangker, ratusan atau bahkan ribuan benda-benda horor terpampang di sana. Dari yang paling menyeramkan sampai yang menggelikan.

“Ada batu-batuan, datang sendiri ketika kami berjelajah di Gombel. Ada bambu gila di dapat dari lereng Merapi yang terkenal sangat angker. Juga ada kaos terakhir seseorang, yaitu kaos yang terkahir dipakai seseorang sebelum tewas bunuh diri,” katanya.

Terpampang pula di colection room itu jenglot, boneka misteri, tongkat, keranda, jelangkung, patung anak kecil dari logam sampai permainan setan.

“Di ruang ini sering terjadi hal-hal aneh. Kalau yang patung anak kecil ini sering nangis. Siter itu sering bunyi sendiri. Ada pula lukisan misteri, yang kami gunakan untuk menutup jendela itu,” katanya.

Benda-benda bertuah koleksi Komunitas Semarangker.

Seram, gelap, pengap dan penuh aura mistis jika berdiri di situ. Pamuji mengatakan meski demikian dia dan rekannya selalu menanggapi hal tersebut dengan santai.

“Harus santai, ya karena memang yang gaib itu ada. Dan kita harus meyakini itu. Tapi bagaimana caranya kita mengolah mindset agar kita tetap realistis menyikapi hal tersebut. Tidak justru membuat kita jadi penakut. Begini, bahkan di tempat ramai pun, jika kita berpikir bahwa di sini angker, maka bulu kuduk pasti berdiri. Semuanya bergantung pikiran kita,” katanya.

Untuk menyebar hal yang diyakini tersebut, Pamuji rutin menggelar acara. Dari diskusi sampai jelajah atau wisata tempat-tempat angker di manapun. Dia mengaku tidak memiliki jimat atau senjata untuk modal keliling. Meskipun dulu, sebelum membentuk Semarangker Pamuji sempat mengamalkan berbagai ritual penggemblengan diri.

“Tapi sekarang sudah tidak. Sekarang kalau mau bikin acara, modal atau senjata yang wajib disiapkan hanya satu, yaitu BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) untuk menambal kekurangan uang. Itu rajah yang sangat ampuh,” candanya.

Kepada pecinta tempat atau benda yang dianggap mistis atau memiliki kekuatan, Pamuji berpesan agar mengutamakan logika, tidak terjerumus pada hal-hal yang memancing kemusyrikan.

“Janganlah menambahi jumlah korban penipuan yang berdalih benda-benda keramat. Kita masih punya akal dan Tuhan, jadi itu jangan ditinggal dan tanggalkan,” katanya.