Grobogan-medijateng.net

Banjir besar di Sungai Lusi, Grobogan, sedikitnya telah menewaskan tiga warga Grobogan. Salahsatu korban tewas, yakni Jumeno (28) warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan yang bertugas melayat tetangga.

Korban lain yakni Lasinah, warga Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan. Korban, tewas ketika berangkat ke ladang karena hendak memupuk tanaman jagung di lahan miliknya yang ada di seberang Sungai Lusi.

Jumeno (28) warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, hanyut dan belum diketemukan di Sungai Lusi ketika mendorong tandu jenazah atau lebih dikenal gendoso tempat menghantar Jinem untuk dimakamkan. Bahkan, Jumeno hingga saat ini masih dalam proses pencarian pihak Sar, Kepolisian dan warga.

Tewasnya Jumeno pemuda berusia 28 tahun ini bermula ketika bersama tiga tetangga hendak memakamkan Jinem. Saat itu, Jumeno bertugas membawa jenazah ke makam. Baik dengan cara ditandu ketika di darat, maupun di dorong dengan cara di apungkan di aliran sungai Lusi.

Dari desa, Jumeno bersama tiga orang lainya yakni Jupri, Masruri dan Marjuki membawa gendoso dengan cara ditandu. Namun, setelah 150 meter deket pemakaman, empat orang itu harus melewati tantangan yakni wajib mendorong gendoso karena harus melewati sungai Lusi yang memiliki lebar sekitar 100 meter.

Diawal menyeberang, karena terbiasa melayat dengan cara berenang mereka percaya diri dan aman melakukan penyeberangan. Namun, saat jenasah sudah sampai di tengah sungai, korban yang sudah kehabisan nafas karena kekelahan merenangi lebarnya sungai terlihat akan terseret arus. Mengetahui hal itu, pemandu lainnya berusaha menyelamatkan korban. Namun, karena derasnya air sungai usaha gagal dan hingga saat ini Jumeno masih hilang di sungai Lusi.

“Saya sudah mau meraih tangannya, tapi tidak kena dan akhirnya hilang,” jelas Masruri, pengiring jenasah yang selamat.

Saat kejadian, korban yang masih kerabat orang yang meningga bersama tiga orang lainnya yakni Jupri, Masruri dan Marjuki bertugas menghantar jenazah dari rumah duka ke makam desa yang ada di seberang sungai Lusi. Di daratan, ke empatnya berjalan dan mengangkat jenazah di pundak. Namun, sekitar 150 meter sebelum makam, mereka harus menyeberangi sungai Lusi yang memiliki lebar sekitar 100 meter.

Saat kejadian, kondisi sungai wilayah yang berada di sisi timur Kabupaten Grobogan itu sedang dalam kondisi banjir besar. Namun, karena tugas menghantar jenazah termasuk diantaranya menyeberangkan jenazah melewati sungai Lusi, maka mereka pun menjalankan tugas dengan cara mendorong keranda.

“Agar keranda bisa mengapung dan tidak tenggelam, sebelumnya di bawah keranda diberi peralon yang memang dibuat khusus untuk menyeberangkan jenazah,” ungkap Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning, SH SIK melalui Kapolsek AKP Zaenuri.

Tim SAR bersama warga berusaha mencari korban, namun sampai berita ini diturunkan belum diketemukan.”Saat ini, masih dilakukan pencarian oleh petugas dibantu warga dan tim SAR,” ungkap Kapolsek Kradenan AKP Toni Basuki.

Curah hujan yang masih cukup tinggi membuat kondisi sungai sedang penuh air dan arusnya cukup deras sehingga menyulitkan proses pencarian korban.”Jika tidak ketemu, pencarian akan kita lanjutkan besok,” pungkas Toni. (505)

5 KOMENTAR

Comments are closed.