Semarang,Mediajateng.net-Sebanyak sembilan pasar tradisional di Kota Semarang, ditargetkan akhir Januari 2017 sudah ditempati pedagang. Menurut Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, pihaknya berkeinginan akan menjadikan pasar tradisional menjadi pasar primadona sehingga nyaman ditempati pedagang dan pengunjung. Sehingga salah satu upaya yang akan dilakukan yakni pasar yang sudah dibangun, segera ditempati para pedagang.

“Ada sembilan pasar yang belum ditempati pedagang. Akhir Januari, bisa masuk semua (ke dalam pasar,red),” ujarnya kemarin.
Fajar mengatakan, biasanya tuntutan pedagang terkait dengan luasan kios dan fasilitas lainnya. Pihaknya segera melakukan perbaikan dan akan menganggarkan bila masih terjadi kekurangan.

“Yang penting masuk dulu. Pemkot sudah bangun pasar dengan biaya besar, sayang sekali kalau tidak ditempati. Nanti kalau ada yang kurang, kita perbaiki segera,” katanya.
Seperti halnya Pasar Rejomulyo dan Pasar Bulu yang telah dibangun menjadi lebih modern. Pihaknya meminta para pedagang segera menempati kios di dalam pasar yang telah disediakan. Dengan demikian, bangunan pasar yang telah direvitalisasi bisa membawa manfaat bagi pedagangnya.

“Jadi pasar kembali hidup. Selama ini tampak dari luar, pasar kelihatan sepi. Padahal aktivitas perdagangan ada. Maka dari itu kami minta pedagang masuk dulu ke dalam pasar,” pintanya.
Untuk Pasar Rejomulyo, fasilitas yang dirasa kurang, akan diperbaiki. Sedangkan untuk Pasar Bulu, Fajar mengatakan, pihaknya menargetkan 15 hari ke depan semua pedagang sudah masuk ke dalam pasar.

“Bila nantinya pedagang enggan masuk, atau tidak mau buka kiosnya di dalam pasar, akan kita tarik kembali, akan kita kelola. Kita juga tidak akan mentolerir jika ada dinas yang jual beli lapak atau kios,” tegasnya.

Pihaknya juga meminta kesadaran para pedagang akan kondisi pasar tradisional di Kota Semarang. Pemkot Semarang terus berusaha melakukan perbaikan fasilitas dan juga merevitalisiasi pasar agar lebih modern dan nyaman untuk kegiatan perdagangan.

Secara terpisah, Ketua Bidang Advokasi Hukum Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Kota Semarang, Zaenal Abidin Petir meminta pedagang harus dilibatkan secara penuh jika pemerintah kota ingin menghidupkan pasar tradisional dengan meminta pedagang berjualan di dalam pasar.

“Pedagang Rejomulyo pada intinya siap pindah selama pasar yang akan ditempati itu sesuai dengan karakter dan keinginan pedagang. Jangan paksa pedagang menempati lapak atau kios yang sempit sehingga mereka akan mati lambat laun,” ujarnya ketika dihubungi via telepon selulernya.

Pihaknya menilai perencanaan Pasar Rejomulyo yang baru tidak sesuai dengan karakter pedagang ikan basah dan gereh. Fasilitas air yang minim dan los pedagang ikan gereh yang tidak layak ditempati masih menjadi persoalan bagi pedagang.
“Contohnya, mosok dasaran pedagang ikan gereh dari keramik, ya nanti akan busuk. Harusnya dari kayu,” bebernya sambil melanjutkan soal fasilitas saluran dan lain sebagainya, yang dirasa kurang memenuhi syarat sebagai pasar ikan.
Zaenal menegaskan, pihaknya akan mengawal terus sampai pedagang mendapatkan tempat berdagang yang layak dan berdaya saing sebagaimana diamanatkan dalam Undang – Undang No 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan.

Comments are closed.