SEMARANG, Mediajateng.net – Kasus kekerasan terhadap anak masih menjadi fenomena yang sedemikian memprihatinkan di wilayah Jawa Tengah bersamaan dengan peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada hari ini, 23 Juli 2018.

Pada tahun 2018, menurut Pelaksana Seksi Perlindungan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Jawa Tengah, Isti Ilma, ada sekitar 426 kasus kekerasan terjadi pada anak, yang berhasil tercatat.

“Kasus kekerasan tertinggi ada di kota Semarang, didominasi oleh tindak kasus kekerasan seksual terhadap anak diikuti dengan kasus bullying di tingkat pendidikan. Itu yang berhasil terlapor, faktanya yang tidak terlapor jelas jumlahnya lebih besar.” jelas Ilma, saat berdiskusi dalam Primetopic mengangkat tema Melindungi dan Mensejahterahkan Anak, di Hotel Quest Semarang, Senin  ( 23 /7 )

Faktor yang memperlambat mekanisme pelaporan terhadap setiap tindak kekerasan terhadap anak, karena ditengah masyarakat sendiri, masih kurang peduli. Mereka menilai setiap tindakan kekerasan menjadi ranah internal dalam keluarga.

Melihat hal tersebut, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Jawa Tengah, berupaya tidak tinggal diam. Salah satunya adalah melibatkan seluruh elemen tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam penyelesaian kasus. Diluar hal tersebut, kami terus berupaya menciptakan agen – agen perubahan di tingkat kalangan anak muda.

“Anak harus menjadi pelopor dan pelapor, untuk meningkatkan kepedulian terhadap teman – teman sebaya mereka.” tambah Ilma.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Komisi E DPRD Jawa Tengah, Abdul Hamid, juga menyatakan keprihatian terhadap masih tingginya tindak kekerasan terhadap anak tersebut. Perhatian agar perlindungan terhadap anak akan terus ditingkatkan.

“Termasuk mempertegas komitmen keluarga dalam membesarkan anak, harus digarisbawahi dalam hal ini.” tutupnya