DEMAK, Mediajateng.net – “Menghijau daunmu nan mewangi, pandan wangi di atas perigi engkau kutanam mengandung arti bisikan jiwa isi hati… ..”

Penggalan lirik langgam Pandan Wangi yang dibawakan oleh Waljinah, saat didaulat menyanyikan lagu dalam acara kenduri keroncong, Sabtu Malam (6/10/2018) lalu.

Mengenakan longdress warna merah muda, sang maestro keroncong Indonesia itu terlihat lebih muda meski usianya kini menginjak 73 tahun. Suara emasnya mampu menghipnotis ratusan pecinta keroncong yang memadati hall Hotel Citra Alam, Demak.

Meski dalam kondisi kelelahan, Waljinah, tetap bersemangat melantunkan langgam Pandan Wangi, ciptaan Gesang.

“Wes rak apik. Suarane entek. (sudah jelek. Suaranya hilang), ” kata Waljinah selesai menyanyikan lagu pertamanya.

“Suaranya masih bagus, Bu. Masih jos, ” jawab penonton kompak.

” Halah. Ngapusi. Wong serak ngene. Padune meh nyenengke aku. (Halah. Bohong. Paling mau buat aku seneng), ” timpal Waljinah, sembari tersenyum.

Ya, pada acara kenduri keroncong yang diadakan oleh Orkes Keroncong Gita Citra Alam (GCA) ini, Waljinah hanya membawakan dua lagu keroncong saja.

Setelah langgam Pandan Wangi, kemudian lagu kedua berjudul Ayo Ngguyu yang diperuntukan bagi saudara – saudara kita di Palu dan Donggala, Sulaweai Tengah yang menjadi korban gempa dan tsunami, agar segera bangkit dari keterpurukannya.

Para penontonpun diajak berdendang dan bergoyang bersama, sehingga suasana malam itu lebih hidup penuh nuansa kekeluargaan. Bukan hanya bernyanyi dan berjoget saja, para penonton juga diajak mendonasikan uangnya untuk para korban gempa.

“Dik Tono (Prilastono), terimakasih. Saya bisa tertawa malam ini. Maaf, hanya sebentar karena harus segera pulang. Salam buat istri,” kata Waljinah saat berpamitan kepada Prilastono, ketua panitia kenduri keroncong yang juga pimpinan GCA Demak.

Sebelum pulang, Waljinah berpesan kepada penonton yang mayoritas adalah Krontjongers Indonesia, agar terus melestarikan keroncong dimanapun berada.

“Maju terus keroncong. Ojo jeleh. Soale keroncong duweke dewe. (Maju terus keroncong. Jangan bosan. Karena keroncong punya kita sendiri),” pesannya.

Prilastono dedengkot GCA Demak, mengatakan, pada satu dasawarsa ini, geliat keroncong di Indonesia tumbuh subur dalam beragam bentuk dan aktivitasnya.

Mulai kegiatan level nasional, regional, lokal dengan melibatkan beragam kalangan, terkhusus internal pegiat keroncong.

Bisa hanya sekadar pertemuan latihan regular, pertunjukan regular, pertunjukan khusus pada acara khusus, hingga perhelatan akbar berpanggung super besar dengan melibatkan artis ternama.

“Sepuluh tahun terakhir ini, keroncong bukan milik orang tua saja, kalangan anak muda yang penasaran akhirnya belajar berkeroncong, ” kata Mas Tono sapaan akrab Prilastono.

Saat ini, sambung Tono, keroncong tak bisa dipandang sebelah mata. Keroncong terus menggema melalui beragam saluran, hingga sampai ke telinga publik.

“Krontjongers Indonesia terus mendorong para pegiat keroncong dari berbagai sisi dan kapasitas masing masing untuk terus berkeroncong hingga seluruh penjuru tanah air, ” bebernya.

Mas Tono menambahkan, kenduri keroncong menjadi wadah bagi pegiat keroncong dan pecinta keroncong untuk bekumpul, berkeroncong dan ajang silaturahmi.

Kenduri keroncong juga menjadi salah satu kanal diskusi untuk semakin mengerucutkan penuangan ide dan gagasan, apapun terkait keroncong dimasa datang.

“Di sini (kenduri keroncong), kita
ngobrol santai terkait hal – hal terbaru, pensikapan perkembangan 10 tahun terakhir keroncong di Indonesia,” ujarnya.

“Kenduri keroncong sebagai kanal diskusi dan perbincangan serta penuangan gagasan dan evaluasi apa saja yang telah dilakukan selama ini, terutama terkait keroncong,” pungkasnya