SEMARANG, mediajateng.net, – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus melanjutkan program jambanisasi. Tahun ini melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang akan memfokuskan program tersebut di Kelurahan Tambakrejo. Di daerah tersebut terdapat 300 Kepala Keluarga (KK) belum mempunyai jamban. Mereka buang air besar di tambak dan tempat umum lain yang tidak semestinya.

Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali mengatakan, faktor kesadaran masyarakat menjadi penyebab utama mereka tidak memiliki jamban. Melalui program jambanisasi, Pemkot Semarang terus berupaya agar semua warganya memiliki jamban keluarga. Mereka tinggal di rumah sederhana, tanpa dilengkapi sanitasi yang memadai.

“Daerah Semarang bawah terutama pantura banyak yang belum punya jamban. Hasil survey dari konsultan kami, tahun ini ada pilot project untuk jambanisasi di Kelurahan Tambakrejo, ” ujarnya, Senin (25/3).

Ali mengatakan, jambanisasi menjadi penting karena akan mengurangi risiko penyakit di masyarakat, mengurangi pencemaran lingkungan, menjaga anak tumbuh sehat, serta mengurangi pemborosan biaya pengobatan atas penyakit yang timbul dari polusi buangan tinja sembarangan.

“Resiko kesehatan masyarakat akibat tidak punya jamban, terus tinggi. Banyak penyakit yang muncul, seperti demam berdarah dan penyakit lainnya,” katanya.

Ali menambahkan juga, program jambanisasi juga erat kaitannya dengan program pengentasan wilayah kumuh. Saat ini Pemkot Semarang terus berupaya mengurangi jumlah pemukiman kumuh dengan memperbaiki jalan, saluran, pengadaan lampu penerang jalan dan fasilitas umum lainnya. (ot/mj)