GROBOGAN, Mediajateng.net –
Prosesi Boyong Grobog merupakan tradisi rutin yang dilakukan menjelang hari jadi Kabupaten Grobogan ke 293 yang jatuh pada Senin (4/3) esok.

Prosesi yang menggambarkan pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan dari kecamatan Grobogan ke Kecamatan Purwodadi, menjadi penanda kegembiraan yang setiap tahun diperingati warga.

Dalam pelaksanaannya, peserta baik bupati, sekda kepala dinas hingga jajaran pejabat kecamatan dan desa, mengenakan pakaian adat Jawa yang dimulai dari Kelurahan Grobogan.

Di pendopo Kelurahan Grobogan ini, Bupati bersama rombongan yakni jajaran Forkopimda, Kepala OPD terkait serta para perangkat desa se-Kabupaten Grobogan berjalan bersama menuju Kelurahan Purwodadi yang kini menjadi Pendopo Kabupaten Grobogan.

Nuansa putih nan sakral ini ditampilkan dalam prosesi perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan dari Kelurahan Grobogan menuju ke Kelurahan Purwodadi.

Terlihat Bupati Grobogan beserta anak mantu dan tiga orang cucunya menaiki kereta kencana dari Kelurahan Grobogan dengan diiringi dua orang pengawal yang diperankan Kapolres Grobogan AKBP Choiron El Atiq dan Dandim 0717/Purwodadi, Letkol Inf Asman Mokoginta.

Tradisi Boyong Grobog ini merupakan prosesi perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan. Sebelumnya, pusat pemerintahan berada di Kelurahan Grobogan dan terdiri dari beberapa wilayah seperti Sela, Teras, Karas, Wirosari, Santenan, Grobogan dan beberapa daerah di Sukowati bagian utara Bengawan Solo dengan bupati yang pertama Adipati Pangeran Puger.

Pusat pemerintahan tersebut terjadi pada tahun 1864 saat Kabupaten Grobogan dibawah kekuasaan Adipati Martonagoro. Prosesi perpindahan ini melibatkan seluruh prajurit dan para abdi dalem lengkap dengan persenjataan dan bermacam hasil bumi.

Seluruh alat persenjataan ini disimpan ke dalam kotak yang dalam bahasa Jawa dinamakan grobog.

Selain memboyong pemerintahan dan pusaka, dalam iringan kirab ini juga terdapat gunungan yang berisi segala macam sayur dan buah-buahan hasil bumi masyarakat setempat.

Gunungan ini mempunyai filosofi sebagai persembahan masyarakat yang mengandung arti hasil pertanian masyarakat semakin berlimpah.

Di sela-sela kegiatan Boyong Grobog, Bupati Sri Sumarni mengatakan, pemindahan pusat pemerintahan dari Kelurahan Grobogan ke Kelurahan Purwodadi bertujuan memudahkan sistem administrasi pemerintahan.

“Pemindahan ini untuk memudahkan sistem administrasi pemerintahan. Kelurahan Purwodadi ini dirasa sangat strategis. Kami berharap prosesi kirab Boyong Grobog ini terus dilestarikan warga Kabupaten Grobogan,” jelas Sri Sumarni.

Sementara itu, Sekda Grobogan, Moh Soemarsono menjelaskan makna gunungan yang dibawa masyarakat yakni agar hasil pertanian masyarakat semakin berlimpah. Di samping itu, gunungan juga sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat Grobogan akan hasil pertanian yang ada selama ini.

“Gunungan ini sebagai simbol rasa syukur masyarakat Grobogan pada Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan. Semoga ke depan, masyarakat Grobogan semakin sejahtera secara utuh dan menyeluruh,” kata Sekda. (Ag-Mj)