SEMARANG, Mediajateng.net – Dalam satu dekade terakhir, perkembangan teknologi internet dan informasi di dunia begitu cepat, termasuk Indonesia. Data Januari 2018 , sebanyak 132 juta masyarakat Indonesia terhubung dengan internet.

Dari data tersebut 130 juta diantaranya menggunakan media sosial, baik Tweeter, Facebook maupun Instagram.

“Saat ini setiap individu dapat mengekspresikan dirinya untuk diunggah di medsos. Bukan hanya seminggu sekali, bahkan hampir setiap hari aktif di medsos,” kata Komisaris Besar Polisi, Heru Yulianto, Kabag Disindik Biro Multimedia Divisi Humas Polri, saat menjadi narasumber Literasi Media Edukasi Bicara Baik dan Bijak Bermedia Sosial bersama Divisi Humas Polri, Selasa (4/9/2018).

Acara yang berlangsung di Hotel Grand Candi, Semarang itu, diikuti oleh pegiat media sosial, netizen dan Jurnalis Media Online.

Menurut Heru, penggunaan teknologi informasi dapat berimplikasi positip dan negatif. Sisi positipnya mempermudah komunikasi, sharing komunikasi,
percepat akses informasi, keterbukaan informasi dan dapat ide baru maupun ajang diskusi.

Sedangkan dampak negatifnya akan membuat ketergantungan, kejahatan siber, mengurangi sifat sosial manusia,
kecanduan pornografi dan mempengaruhi nilai nilai budaya.

“Akibat kebebasan yang kebablasan di media internet, munculah hate speech (ujaran kebencian) dan hoaks (berita bohong),” ungkapnya.

Seiring maraknya hate spech dan hoaks menjelang Pileg dan Pilpres 2019, Heru mengajak masyarakat pengguna internet agar cerdas dan bijak dalam bermedsos.

” Interaksi di dunia maya (medsos) sama seperti di dunia nyata. Ini yang harus kita sadari bersama. Apalagi sudah ada UU ITE, karena itu kita juga harus taat aturan, ” kata dia.

Polri terus berupaya melakukan tindakan preventif (pencegahan) untuk mencegah dampak negatif dari penggunaan media sosial. Mulai dari Mabes, Polda, Polres hingga Polsek , selain melakukan patroli cyber juga terus mengedukasi masyarakat agar bijak menggunakan media sosial.

“Sekali lagi kita harus bijak bermedsos, tidak perlu ikut ikutan mengunggah postingan hoaks maupun ujaran kebencian yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan. Akan lebih baik kalau postingan kita bermanfaat untuk kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng, Komisaris Besar Polisi , Agus Triatmaja, mengatakan, media sosial mempunyai peran penting dan berpengaruh besar terhadap segala aspek kehidupan. Terlebih suhu politik di tanah air, kini kian memanas jelang Pilpres dan Pileg 2019 , banyak bertebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.

“Kalau kita tidak bijak akan terpengaruh hoaks yang dapat memicu gangguan kamtibmas, ” tuturnya.

Menurut Agus, hoaks (berita bohong) , sangat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat kita.

Polda Jateng mengajak mahasiswa, netizen dan jurnanalis media online, yang mengikuti kegiatan literasi media ini, nantinya dapat menyampaikan pada teman, tetangga dan saudara-saudara kita, bagaimana bijak dalam bermedsos. Sehingga situasi dan kondisi di wilayah hukum Polda Jateng yang sudah kondusif terus tetap kondusif.

“Pilkada Jateng berjalan kondusif karena pengaruh netizen yang menciptakan iklim sejuk di media sosial. Kalau ada hal – hal di medsos yang dapat menimbulkan potensi konflik, kita semua harus memberikan kesejukan, ” tutupnya. (MJ-AW)