DEMAK, Mediajateng.net – Kekeringan yang melanda Kabupaten Demak, dalam beberapa bulan terakhir ini, mengakibatkan sejumlah wilayah mengalami krisis air bersih.

Kekeringan akibat kemarau panjang itu, selain menyebabkan sungai mengering, sumur – sumur warga juga kering mata airnya.

Salah satu desa yang paling parah terdampak kekeringan, salah satunya Desa Kedondong, Kecamatan Demak dan perlu mendapatkan bantuan air bersih.

Akibat kekeringan ini, air menjadi barang langka, sehingga wargapun rela mengantri jika ada bantuan air bersih dari pemerintah dan lembaga lainnya. Seperti yang terlihat pada Sabtu (1/9/2018) , saat aparat Polres Demak memberikan bantuan air bersih.

Warga menyambut gembira droping air bersih dari Korps Bhayangkara ini, dan rela antri satu persatu dengan membawa jeriken dan ember.

Kapolres Demak, AKBP Maesa Soegriwo. didampingi Ketua Cabang Bhayangkari Demak, Sukma Maesa turun langsung mendistribusikan air bersih sekaligus bercengkerama dengan masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan.

“Ini merupakan kepedulian Polres Demak terhadap warga yang mengalami kekeringan. Kegiatan ini sekaligus sebagai rangkaian kegiatan Operasi Satgas Nusantara, HUT Polwan ke 70 dan HKGB ke 66,” tutur Maesa.

Kegiatan bakti sosial, droping air bersih ke desa – desa yang mengalami kekeringan, Polres Demak bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Demak.

Selain Kapolres dan istri, para personel Polres Demak dan Bhayangkari membantu menuangkan air ke sejumlah jerigen dan ember kosong milik warga yang telah mengantri.

Lebih lanjut Maesa, menambahkan, dalam bakti sosial kali ini , Polres Demak telah menyiapkan enam tangki air bersih yang didistribusikan kepada Warga. Selain itu, pihaknya juga menyiapkan air bersih bagi wilayah lain yang membutuhkan.

“Semoga bantuan dari Polres Demak ini bermanfaat. Nantinya pemberian air bersih ini akan kita berikan secara bertahap kepada wilayah yang membutuhkan bantua selama beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Sementara itu,  Kristina (39), warga Desa Kedondong, Kecamatan Demak, mengatakan, kekeringan yang melanda desanya, telah berlangsung selama tiga bulan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga bahkan harus mencarinya hingga keluar desa.

“Untuk kepentingan mandi, masak, mencuci kita harus mencari air bersih keluar desa. Selain itu kami juga rela mengantre bantuan air bersih dari pemerintah. Sumur sumur di desa kami kering jika kemarau seperti ini,” akunya.

Terpisah, Agus Nugroho, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, mengatakan,
kemarau tahun ini, disebut Kemarau basah, karena itu di wilayah Demak masih biasa saja. Apalagi pada bulan Oktober mendatang, waduk Kedung Ombo sudah dibuka kembali.

“Antisipasi sementara dengan dropping air bersih. Minggu ini kita sudah dropping air bersih sebanyak 250 tanki berisi 5000 liter air setiap tangkinya,” kara Agus.

Agus menambahkan, mestinya desa – desa yang terdampak kekeringan tahun kemarin, sudah bisa mengantisipasi dengan pembuatan sumur bor di setiap RW, sehingga bisa untuk mencukupi kebutuhan masyarakat desanya.

“Saat ini kita juga sudah mengajukan tambahan anggaran kepada Gubernur untuk air bersih sejumlah 300 tanki,” tutupnya.