PURWODADI- mediajateng.net
Banyaknya kasus pernikahan dini sebutan nikah muda di Kabupaten Grobogan menjadikan pekerjaan rumah pengurus baru Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).
Tidak hanya ibarat lontong diketok-ketok atau omong tok. Namun PKBI Kabupaten Grobogan harus lakukan gebrakan kegiatan sehingga keberadaan dan fungsinya dirasakan nyata bagi warga
“Gebrakan dilakukan terkait permasalahan yang menyangkut kelompok remaja dan rumah tangga. Lakukan sosialisasi PKBI hingga menyentuh telinga masyarakat,” Hasan Fikri Ketua PKBI Jateng, dalam sambutan pelantikan pengurus PKBI Kabupaten Grobogan.
Seperti Kabupaten Rembang, permasalahan yang hampir sama terjadi di Kabupaten Grobogan.
“Pernikahan usia muda banyak terjadi. Ada yang alasan ekonomi, takut anak perempuan tidak laku sampai hamil diluar nikah. Penyadaran kepada kalangan muda dilakukan salahsatunya dengan kegiatan seminar seks dikalangan pelajar,” ungkapnya.
Berbeda dengan kota Semarang yang penyadaran fungsi organ tubuh yang sudah dikenalkan mulai dari sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), di Kabupaten Grobogan kegiatan bisa dilakukan ditingkap SMP dan SMA hingga pernikahan akibat hamil diluar nikah sebagai imbas dari seks bebas bisa diminimalisasi.
Terkait permasalahan pernikahan dini, diakui Johari Angkasa di Kabupaten Grobogan masih sangat tinggi.
“Tidak saja masalah pernikahan itu sendiri. Pernikahan usia muda juga menjadi salahsatu penyebab kematian ibu melahirkan,” ungkap pria yang juga pernah menjabat Kepala Dinas Kesehatan tersebut.
Penyelesaian, salahsatunya dengan terus mendorong anak agar menyadari resiko pernikahan di usia muda.
“Dengan wajib belajar tidak saja 9 tahun diharapkan anak bisa menolak ketika ditawari nikah orang tua. Alasan ingin sekolah bisa diutarakan,” ungkapnya.
Langkah itu, diprioritaskan di daerah pedesaan. Hal itu disebabkan kesadaran sekolah lebih tinggi di perkotaan.
“Biar nanti anak desa juga berani menolak jika ditawari menikah orangtuanya,” imbuhnya (MJ-505)

Comments are closed.