GROBOGAN, Mediajateng.net – Sejumlah peternak ayam di Kabupaten Grobogan mengeluhkan minimnya stok DOC (Day Old Chicken) atau yang disebut bibit ayam. Hal inilah yang memicu kenaikan harga ayam.

Minimnya pasokan DOC berdampak pada berkurangnya jumlah ketersediaan ayam potong di peternak. Selain berkurangya stok DOC, harga pakan juga mengalami kenaikan.

Biasanya untuk peternak mampu mendapatkan pasokan bibit anak ayam dari perusahaan mitra sebesar lima ribu ekor anak ayam. Kini hanya mendapatkan empat ribu ekor. Sementara untuk kapasitas kandang yang mestinya 15 ribu ayam, kini hanya 13 ribu hingga 14 ribu ayam.

Selain sulitnya mendapatkan DOC, peternak juga mengeluhkan harga pakan ayam yang juga mengalami kenaikan yakni dari harga Rp 4.800 rupiah menjadi Rp 5.800,- rupiah perkilonya atau naik Rp 1.000,- per kilonya.

Tomi Irawan, peternak ayam potong yang ada di Grobogan mengatakan, sampai Senin (30/7/2018) ini pesanan DOC belum juga datang.

“Sekitar seminggu lalu saya sudah pesan DOC, seharusnya tanggal 25 Juli 2018 kemarin DOC itu sudah datang, namun sampai hari ini belum juga datang,” kata Tomi.

Tomi mengatakan, berkurangnya pasokan ayam potong ini berakibat naiknya harga ayam potong. “Biasanya untuk satu kilo ayam daging harganya mencapai Rp 15 ribu. Namun semenjak peternak kesulitan mendapatkan DOC dan harga pakan naik, harga jual mencapai Rp 23- 24 ribu perkilonya,” ungkapnya.

Selama ini, para peternak menjual ayam ke perusahaan mitra peternak, baru untuk ayam potong dibeli oleh para pedagang dipasar. Meski harga naik, peternak tidak begitu menikmati keuntungan karena tidak seimbang dengan biaya perawatan.

Selain Tomi, sejumlah peternak lain mengaku, dalam empat periode panen ayam potong ini, jumlah pengiriman anak ayam berkurang drastis. Padahal saat ini para peternak juga disulitkan dengan cuaca ekstrim yang mengancam jumlah kematian ayam peliharaannya. Hal itu berdampak pada hasil panen yang juga mengalami penurunan.

Selain peternak, masyarakat juga mengeluhkan kenaikan harga ayam potong. Beberapa diantaranya akhir-akhir ini memilih untuk memasak tahu atau tempe sebagai alternatif lauk pauk.

“Harganya naik. Sekarang libur dulu makan ayamnya, sampai nunggu harga ayam turun tapi tidak tahu kapan turunnya,” kata Widya, warga Kalongan.

Sementara itu, para pedagang makanan berbahan baku ayam potong juga ikut terdampak kenaikan harga bahan pokoknya. Karena itu, mereka mengurangi porsi stok meskipun keuntungan yang didapat juga ikut berkurang.

“Saya biasanya sedia sampai 4 kilo ayam setiap harinya. Sejak ayam naik, saya cuma menyetok 3 kilogram. Otomatis keuntungan saya jadi ikut turun,” kata Anto, pedagang ayam goreng tepung. (Ag-MJ)