Semarang – mediajateng.net

Subdit 1 Indagsi Direktorat Resese Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Jateng berhasil menangkap seorang warga Jepara yang kedapatan memproduksi dan mengedarkan obat-obatann jenis obat kuat dan perangsang berbagai merk ternama dan tidak memikik ijin edar dari Badan POM RI.

Tersangka bernama Muhamad Nazarudin (32) warga Dukuh Krajan Rt 1/Rw 1Desa Jambu Timur, kecamata Mlonggo, Kabupaten Jepara. Pelaku ditangkap dalam sebuah penggerebekan yang dipimpin langsung oleh Kasubdit 1 Indagsi Ditreskrimsus AKBP Egy Adrian Suez pada Kamis (14/9) sekira pukul 03.00. Dari tangan tersanga petugas menyita ribuan barang bukti obat kuat, pelangsing dan perangsang baik yang masih diracik atau siap dikirim.

“pelaku ini sudah menjalankan aksinya sejak tahun 2009. Omzetnya 60 juta per bulan. Konsumenya merata seluruh Indonesia. Cara jualanya online melalui website bintanglarista.com dan klineksehat.com,” ujar Egy saat rilis kasus Senin (17/9) .

IMG_20170918_120401

Egy menambahkan, pelaku ini telah membohongi konsumen terkait bahan baku oba-obatan ilegal ini. Semisal untuk obat perangsang pelaku mencanpurkan air mineral dan obat tetes mata dengan komposisi tertentu. Sedangkan untuk obat kuat Nazarudin mencampur dengan silikon, sementara biji kopi yang sudah diolah dijadikan obat pelangsing dan dimasukan kedalam botol dan kemasan merk terkenal seperti Hammer of Thor , Exitoc, Blu Wizard

” Dia memalsukan kemasan dengan dilabeli merk terkenal, padahal stiker itu dibuat sendiri oleh pelaku. Dsri penyidikan sementara ia bekerja sendiri, tapi tidak menutup kemungkinan ada yang membantu. Ini masih kita dalami,” imbuhnya

Obat-obatan ilegal ini dijual kepasaran dengan harga variatif antara Rp.100 ribu hingga Rp.400 ribu. Tersangka dijerat dengan lasak 197 jo pasal 105 ayat (1) UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun dan denda Ro. 1,5 Milyar. Serta pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) huruf a UU nomor 8 tahun 1999 tentang perlindung konsumen dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun dan atau denda Rp.2 Milyar. (MJ-303)