SEMARANG, Mediajateng.net – Kalau berbicara masalah Pasar Kanjengan, tentu tak lepas dari sebuah misteri yang kurang lebih satu abad ini masih menjadi pembicaraan para pedagang atau masyarakat sekitar secara turun temurun.

Banyak orang yang tidak tahu dan menyangka bahwa di depan komplek Blok E ada sebuah makam dan pohon beringin yang usianya lebih dari 100 tahun. Makam Nyi Kerti Timpang dan pohon beringin kecil. Menurut para pedagang pasar kanjengan merupakan, makam dan pohon beringin itu adalah “tameng” dari beberapa peristiwa.

Menurut penuturan pak Agus, tukang parkir yang sudah 30 tahun menjalani profesi itu menceritakan kawasan yang tahun 1985 disulap oleh Gubernur saat itu, Ismail menjadi pertokoan dan bioskop modern. Pada saat pembangunan lahan parkir, makam dan pohon beringin itu akan dibongkar, karena berada di tengah dan menganggu truck proyek yang akan bongkar muat.

Bahkan saat itu Gunernur Ismail sempat mengadakan sayembara pembongkaran makam dan menebang pohon beringin. Mulai dari pemborong sampai orang sakti mencoba mengikuti sayembara tersebut. Namun percuma, usahanya sia-sia, tak satu pun dari peserta sayembara yang berhasil.

“Seingat saya sayembara itu diikuti oleh puluhan prang dari berbagai daerah, ada dari Pamekasan, Madura, Surabaya, Banten, dan Kalimantan. Tapi para peserta sayembara yang konon berhadiah Rp5 Juta itu tak mampu membongkar makam Nyi Kerti Timpang. Bahkan seorang sopir truck proyek harus meregang nyawa saat berusaha mematahkan pohon beringin”, Ujar Agus.

Membicarakan betapa mistisnya makam Nyi Kerti Timpang menurut Agus tak ada habisnya. Banyak peristiwa aneh di luar logika saat dirinya menyaksikan sendiri warga Kaliwungu mengalami pembengkaan pada kemaluanya usai kencing di sekitar makam dan pohon beringin.

Saat kebakaran di bulan Mei 2015 tahun lalu menurut Agus, bangunan utama yang dulu menjadi toko modern pertama di Jawa Tengah sempat dilalap api, bahkan api sudah membara di bangunan paling atas. Namun anehnya tiba-tiba api tersebut mati sendiri, sedangkan bangunan sebelahnya sudah hangus terbakar

cerita Nyi Kerti Timpang sendiri menurut Agus berkembang dari generasi ke generasi dengan berbagai macam versi. Kalau dari penuturan kakeknya dulu, Agus mengatakan, bahwa Nyi Kerti Timpang adalah seorang wanita pemberani, dirinya rela mengorbankan nyawa. Agar daerah Kanjengan, yang pada masa silam merupakan depan dari Kadipaten Semarang ini tidak diinjak-injak oleh penjajah,

Nyi Kerti Timpang harus dipenggal kepalanya oleh penjajah. Badanya dikubur dekat pohon beringin, sedangkan kepalanya dibuang di sungai (perempatan sebelum Pospol Johar dahulu sungai) tak jauh dari makam Nyi Kerti Timpang.

Hingga kini kawasan kanjengan yang kumuh belum bisa tersentuh oleh Investor yang mengincar walau kasus kebakaran maupun sengketa lahan. Apa karena keberadaan Makam Nyi Kerti Timpang dan Pohon Beringin, biarlah waktu yang menjawabnya. (MJ-303)

Comments are closed.