DEMAK, Mediajateng.net – Pagi belum sepenuhnya tiba, tapi geliat perekonomian di Pantai Morosari sudah nampak. Nelayan satu per satu mengemudikan jukung jukung kecil menuju laut lepas, para pedagang makanan yang berderet di sepanjang jalan menuju pantai, hingga pemulung yang bersemangat mengais tumpukan sampah yang terbawa ombak di bibir pantai di celah antara batu dan pohon mangrove.

Pantai Morosari, sebuah wilayah pesisir di Timur Laut Sayung Demak, yang diresmikan sebagai objek wisata sejak masa Bupati Endang Setyaningdiah.

Aktivitas di lokasi wisata yang kerap disebut Pantai Mor ini juga sudah dimulai sejak pagi buta. Para pengunjung dari berbagai kalangan datang untuk berbagai tujuan. Misalnya Pujiastuti (40) warga Kecamatan Karangtengah, yang memasuki kawasan wisata bersama suami dan bayinya. Maksud kedatangannya ke pantai yang berada di wilayah Desa Bedono, Sayung adalah untuk memandikan anaknya yang sedang batuk pilek. “Biasanya anak anak saya yang kakaknya bayi ini kalau batuk saya ajak ke pantai, dimandikan. Nanti terus sembuh kok Mas,” tuturnya malu malu.

Mayoritas pengunjung adalah anak muda yang ingin bercengkrama dengan pasangan maupun teman temannya sambil menikmati panorama pantai.

Seperti yang dilakukan oleh Yoga (16) warga Perum Wiku Demak, dan teman perempuannya, mereka hanya duduk berdampingan memandang laut lepas atau sesekali tatapan mereka hinggap ke arah rerimbunan hutan mangrove.

Menurut Yoga, ini adalah pertama kalinya ia mengunjungi Pantai Mor, sebenarnya Pantai ini lebih bagus daripada pantai terkenal di daerah lain yang pernah dikunjunginya. Tapi objek wisata ini perlu pembenahan. “Ada Warungnya tapi cuma satu, pagi belum buka terus fasilitas yang sudah ada misalnya toilet, mushola dan gazebo perlu direnovasi dan ditata ulang supaya lebih apik,” kritik pelajar SMU ini.

Jarak tempuh dari Stasiun Tawang, Bandara Ahmad Yani, Terminal Terboyo Semarang yang hanya sekitar 15 menit ditambah akses menuju lokasi wisata ini sangat bagus, jalan beton sepanjang 3 km yang mulus dan tak terputus menghubungkan pantura dengan Pantai Mor harusnya mampu menyedot pengunjung dari luar daerah juga.
Hanya mungkin perlu publikasi yang mempengaruhi animo para wisatawan untuk mau menjadikan Pantai Mor sebagai salah satu destinasi wisata di waktu luangnya.

Di sisi lain, kita akan menyaksikan di tengah bermacam aktivitas para pengunjung, biasanya beberapa laki laki setengah baya berselempang sarung akan  mendatangi kelompok kelompok wisatawan lokal. Mereka adalah para tukang ojek perahu yang sedang menawarkan jasanya. “Monggo, praon teng Makam Mbah Mudzakir atau hutan mangrove. Ongkose murah lho Bapak, Ibu, Mas dan Mbah. Setunggal namung 15 ewu (Mari naik perahu ke Makam Mbah Mudzakir atau hutan mangrove. Ongkonya murah lho Bapak, Ibu, Mas dan Mbah. Satu penumpangnya hanya Rp 15.000 ),” ajak mereka bersemangat.

Mereka, para pengojek perahu yang rata rata berusia separuh baya hanya mengandalkan jasa  yang berkenan disewa oleh para pelancong. Pekerjaan ini mereka tekuni setelah vitalitas tak bersahabat lagi semenjak usia perlahan merangkak naik.

Saat muda dulu, mereka masih bisa ‘miyang’ (pergi melaut) berburu hasil laut hingga puluhan mil dari pantai, tapi kini tenaga mereka sudah tak kuat menahan angin laut yang kencang serta ombak badai yng terus mengintai keselamatan para nelayan.

Hal tersebut dibeberkan oleh Sapuan (65) pengojek perahu asal Desa Bedono yang setiap hari mangkal di pantai Mor sejak subuh menjelang hingga petang. “Lha pripun Mas, gadahe prau alit, jukung niki nek nengah nengah kan tetep kalah, sakniki ombake sansaya galak. (lha bagaimana lagi mas,  cuma punya perahu kecil ini,  kalau mencari ikan ke tengak laut tidak berani karena ombaknya tinggi),” keluhnya.

Kini, Sapuan dan tiga orang pemilik perahu kecil menggantungkan nasibnya dari upah para pengunjung yang minta diantarkan ke Makam Syech Mudzakir maupun kawasan konservasi mangrove di bekas Dukuh Rejosari , Desa Bedono yang kini sudah hilang ditelan air akibat abrasi. “Kalau hari biasa nggih sepi mas, ramene minggu atau pas liburan ( kalau hari biasa sepi mas, ramainya hari minggu atau musim liburan)  ,” tuturnya menyampaikan tentang rata rata penumpang yang naik ke perahunya.

Tarif ojek perahu di Pantai Mor sangat terjangkau, untuk rute Pantai Mor ke Makam dan hutan Mangrove yang bisa ditempuh dalam waktu 30 menit, pelancong hanya perlu merogoh kocek Rp 15.000/ penumpang.
Di Pantai Morosari memang baru ada empat perahu ojek yang menjadi satu satunya alat transportasi menuju objek wisata di seputar Sayung. Itupun belum ada legalitas paguyubannya. Mereka hanya berinisiatif sendiri.

Sebenarnya, Sapuan punya angan angan yang ingin disampaikan kepada pihak Pemkab Demak terkait perkembangan Pantai Mor. Ia ingin Pantai Mor menjadi salah satu destinasi wisata yang menjadi andalan Demak yang wilyahnya didominasi oleh kawasan pesisir. “Menawi gadhah modal sakjane pengin ndamel perahu taman, bahane ngangge drum plastik bekas, lajeng dihias dengan tanaman kaleh kembang (seandainya punya modal,  inginnya membuat perahu taman yang terbuat dari drum plastik bekas dengan dihiasi aneka tanaman dan bunga),” kata Bapak 9 anak ini sambil menerawang.

Ia memimpikan setelah perahu taman apung dibuat, para pengunjung pasti tertarik untuk berfoto di tengah laut. “Mangke nyuwun tulung disanjangke pemrentah kersane saged dibantu ndamel taman apung nggih Mas, mangke rak sing dolan mriki tambah kathah ( Tolong sampaikan kepada pemerintah supaya bersedia membantu membuatkan perahu taman apung, nanti yang main kesini pasti banyak), ” pesannya mengakhiri pertemuan pagi ini. (MJ-045)

1 KOMENTAR

Comments are closed.