SEMARANG, Mediajateng.net – Pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Jateng, Sudirman Said-Ida Fauziyah bertemu dengan komunitas Katholik di Jawa Tengah, MInggu (4/2) di Rumah Retreat Paseban di Bongsari, Semarang. Dalam pertemuan yang diinisiasi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakataan Keuskupan Agung Semarang itu hadir para tokoh, perwakilan gereja, serta ormas Katolik di Jawa Tengah.

Usai pertemuan Pak Dirman menyampaikan, dirinya maupun Bu Ida menyambut baik undangan dari komunitas Katholik Jateng ini. Pasalnya, sebagai bakal calon pemimpin Jateng, dirinya perlu memaparkan visi dan misinya kepada seluruh masyarakat Jateng, termasuk komunitas Katolik.

“Semua warga Jateng, siapapun dia, apapun golongannya, apapun agamanya, apapun organisasi berhak tahu visi dan misi kami dalam membangun Jateng. Dan kami juga merasa berkewajiban menyampaikannya kepada seluruh warga Jateng,” kata Pak Dirman.

Pak Dirman menjelaskan, selain menyampaikan visi dan misi, dia juga banyak mendengarkan beragam masukan dari hadirin yang datang pada kesempatan itu. “Kami senang karena selain bisa menyampaikan visi dan misi, juga mendapat banyak masukan dari peserta pertemuan,” lanjut Pak Dirman.

Lebih lanjut Pak Dirman mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut dia dan Bu Ida menguraikan pentingnya pembangunan sumber daya manusia, penanganan kemiskinan, persoalan perempuan dan keluarga, soal-soal kebangsaan, dan persoalan sosial kemasyarakatan lainnya.

“Dan kami satu suara dalam soal ini, bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak boleh kalah dengan pembangunan infrastruktur. Fokus pada bagian terbawah masyarakat merupakan kehendak banyak pihak, termasuk elemen gereja Katolik,” katanya.

Sementara itu, calon wakil gubernur Jawa Tengah, Ida Fauziyah mengaku mendapat amanat agar persoalan kemiskinan dan perempuan jangan sampai dikesampingkan. Pasalnya, kemiskinan di Jateng sebagian besar yang menderita kaum hawa, Jawa Tengah. Karena kemiskinan Jateng menjadi salah satu provinsi pengirim terbanyak TKW.

Berdasarkan data BP3TKI, jumlah TKI Jateng tahun 2014 sebanyak 92.629, tahun 2015 turun menjadi 57.107, tahun 2016 menjadi 49.581, dan pada semester awal 2017 sebanyak 30.469. Setiap bulan Jateng rata-rata mengirim 5.000 TKI.

Problem lanjutan dengan banyaknya TKI maupun TKW adalah nasib pendidikan anak dan tingginya tingkat perceraian. Selain itu, ada juga angka kekerasan pada perempuan dan anak yang cukup tinggi.