SEMARANG, mediajateng.net, – Pengusaha sektor minyak dan gas asal Kota Semarang, Nova Widjoyo menyampaikan pendapat dan harapannya kepada pemerintah terkait kebijakan dan regulasi tentang migas. Dirinya melihat masih terjadi kesenjangan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan nonsubsidi yang terlalu jauh.

Akibat dari hal tersebut menurut dia, kesenjangan itu akhirnya berpotensi besar terjadinya penyiasatan untuk melakukan kecurangan bagi beberapa pengusaha. Sebagai contoh, para pengusaha di sektor industri akan berupaya menggunakan BBM subsidi, meski dengan teknis pembelian yang ilegal. Begitu juga di sektor kelautan, akan banyak pemilik kapal yang akan menyiasati tingginya harga BBM industri dengan menggunakan BBM ilegal.

“Seandainya harga BBM industri tidak terpaut jauh dengan subsidi, maka perekonomian akan jauh lebih bagus. Karena banyak sektor yang membutuhkan BBM industri ini, seperti nelayan, perusahaan, dan banyak sekotor riil lainnya,” kata pemilik PT. Dharma Sentanaputra ini.

Namun sebagai pelaku usaha, dirinya sangat mengapresiasi kebijakan dan regulasi pemerintah tentang migas. Hanya saja perlu ada kebijakan lain yang berpihak pada pengusaha dan demi kesejahteraan masyarakat. Apalagi tahun ini, pemerintah akan membuka dua kilang minyak di Plaju dan Dumai menjadi kilang untuk memproduksi biodiesel dengan 100 persen berasal dari minyak sawit (B100).

“Saya berharap pada pemerintah, harga BBM industri bisa ditekan, sehingga industri bisa berjalan dan akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Dengan kesenjangan harga yang tinggi, malah memicu peredaran BBM ilegal. Ini tentu sangat merugikan negara,” tegasnya.

Sebagai informasi, tahun lalu Pertamina akhirnya meneken kerja sama pembangunan Kilang Bontang dengan Oman dan Jepang. Hal itu menjadi untuk pertama kalinya sejak 20 tahun terakhir terdengar kembali rencana pembangunan kilang di Indonesia.

Pembangunan kilang minyak dengan kapasitas besar terakhir yang dilakukan pemerintah adalah pada tahun 1995, yakni sewaktu membangun Kilang Balongan dengan kapasitas 125 ribu barel per hari.

Resminya, Pertamina kini memiliki 6 kilang yang jika dijumlah kapasitas produksinya hanya mencapai 800 ribuan per hari. Ini jauh di bawah tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional yang bisa mencapai 1,3 juta barel per hari. (ot/mj)