Mengintip Lebih Dalam Tradisi Angon Putu Yuk

2117

GROBOGAN, Mediajateng.net – Notoraharjo menjalankan laku tradisi turun temurun yang dinamakan tradisi ‘Angon Putu’ atau menggembala cucu ke pasar, Minggu (24/12). Sedang, cambuk cemeti yang bertujuan untuk mengarahkan langkah sang cucu ke dalam pasar tradisional diayunkan secara pelan tanpa menyakiti.

Mereka sengaja meluangkan waktu untuk mengikuti prosesi upacara Angon Putu yang diadakan oleh nenek dan kakek mereka. Mereka dengan suka cita menyambut upacara tradisi yang hampir punah itu. Bahkan cicitnya yang belum lama lahirpun ikut datang kendati harus digendong oleh orang tuanya.

Angon Putu diawali dengan sungkeman. Anak-anak, cucu dan cicitnya sungkem kepada pasangan Notoraharjo dan Sumi yang dilakukan di rumah sang kakek. Usai sungkeman, mereka diajak melakukan napak tilas perjalanan hidup Notoraharjo dan Sumi. Napak tilas dimulai dari sekolah sang orang tua hingga bekerja untuk menghidupi keluarga.

Setelah napa tilas, Notoraharjo dan Sumi memberi sangu atau uang kepada anak-anak dan cucunya berupa uang pecahan Rp 10 ribu dan Rp 5 ribu dengan total Rp 50 ribu yang dimasukkan ke dalam amplop.

Uang, nantinya digunakan untuk jajan di Pasar Fajar Purwodadi. Mereka dibebaskan membeli apapun yang dimau. Sangu yang diberikan merupakan uang Notoraharjo dan Sumi sendiri. Dimana, uang sengaja disiapkan untuk upacara Angon Putu. Setelah kembali dari pasar mereka digiring pulang ke rumah.

Seperti orang Jawa kono, Notoraharjo dan Sumi mengenakan beskap jangkep dan kebaya dan jarit. Notoraharjo sembari dudu dikursi roda membawa cemeti sebagai piranti atau alat yang digunakan untuk menggiring ngon-ngonan atau mengarahkan . Diibaratkan orang yang sedang angon atau menggembala hewan ternak, cemeti itu berfungsi untuk menggiring agar ngon-ngonan tidak jalan sendiri-sendiri namun terarah sesuai keinginan sang kakek.

Tradisi angon putu, belakangan makin jarang digelar. Menurut budayawan Agus Supriyanto tradisi yang sudah turun temurun itu hampir punah.

“Tidak saja usia nikah yang bertambah lebih dewasa. Namun kesadaran orang untuk tidak memiliki anak terlalu banyak melalui program keluarga berencana juga menjadi alasan tradisi angon putu mulai luntur dan cenderung menghilang. Syaratnya kan harus punya cucu plus cicit minimal 25 orang,” katanya.

Selain itu, usia hidup yang makin pendek juga mengakibatkan orang belum mencapai jumlah yang disyaratkan meninggal. “Dulu orang tua usia lebih dari 100 tahun banyak ditemui, sekarang sangat jarang,” katanya.

Angon Putu ini merupakan tradisi Jawa yang sudah lama ada. Namun tradisi ini memang tidak sepopuler tradisi Jawa lainnya seperti upacara lahiran, kitanan atau kematian. Jaman dulu tradisi ini merupakan wujud rasa syukur sebuah keluarga atas keberkahan pada dirinya dan para cucu. Biasanya diadakan jika cucunya sudah mencapai sekitar 25 orang.

Selain itu, Angon Putu juga sebagai cara untuk mendekatkan antar sanak saudara. Mengingat, setelah menikah rata-rata anak pergi merantau dan sibuk dengan urusan keluarga. Tradisi Angon putu merupakan bagian dari upacara Tumbuk Ageng.

Upacara yang menandakan siklus kehidupan masyarakat Jawa menjelang tua, biasanya saat berumur 64 atau 80an tahun dan sudah memiliki lebih dari 25 cucu. Tumbuk berarti berarti bertepatan atau bersamaan, sedangkan ageng berarti agung atau besar. Jadi upacara ini diadakan tepat pada saat seseorang berusia 8 x 8 tahun (64 tahun). Pada usia 64 ini dipercaya hari wetonnya tepat sama dengan weton saat dia lahir ke dunia.

Upacara tumbuk ageng ini diselenggarakan sesuai keadaan, bisa kecil-kecilan, sederhana atau mewah, tergantung perlengkapan dan jenis sesaji ketika melaksanakan kenduri. Semakin banyak jumlah sesaji dan perlengkapan yang dibutuhkan, maka akan semakin banyak biaya yang dibutuhkan.

Ada tiga serangkaian acara Tumbuk Agung yaitu Angon putu, Congkogan, dan Andrawina. Ketiganya mengisyaratkan sebuah kegiatan yang ditujukan kepada orangtua. Mulai dari momong putu atau menimang cucu, dibopong anaknya hingga simbol keprasahan orang tua pada Gusti Allah. (MJ-012)

Comments are closed.