TANGGUNGHARJO, Mediajateng.net – Ketika mendatangi stasiun kereta api Tanggungharjo, mungkin mata kita hanya akan melihat bangunan stasiun seperti pada umumnya. Tidak ada yang unik dari fisik stasiun yang mengambil nama sama dengan daerah dimana dia didirikan yakni Desa sekaligus Kecamatan Tanggung‎harjo.
Bangunan menggunakan desain biasa yakni kontruksi kayu jati seperti material yang mayoritas digunakan warga untuk membangun rumah. Dari kontruksi, jika kita membandingkan, stasiun yang dibangun perusahaan Belanda NIS (Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij) pada 17 Juni 1864‎ ini dengan stasiun William 2 di Ambarawa dan kembaranya stasiun Kedungjati, stasiun Tanggungharjo terkesan lebih sederhana. Namun, dari sejarah perkembangan kereta api di Indonesia, Stasiun Kemijen Semarang yang hanya untuk rumah sinyal pengawasan dan bukan sebagai stasiun penumpang, dihubungkan dengan jalur sepanjang 25 kilometer. “Warga tahunya ada stasiun yang sekarang tidak pernah digunakan untuk naik turun penumpang‎. Jika itu stasiun tertua malah tahunya yang Ambarawa (museum kereta),” aku Sutar, Warga Tanggungharjo.
Stasiun Tanggung merupakan stasiun penumpang pertama di Indonesia. Sementara, stasiun Kemijen hanya sebagai rumah sinyal pengawasan, yang dibangun pada tahun 1864 dan selesai pada tahun 1868, dan hanya bertahan beberapa lama, karena pada 1914 rumah sinyal ini dinonaktifkan. Dan pada 10 Agustus 1867, jalur kereta pertama diaktifkan di jalur Tanggung-kemijen sepanjang 25 kilometer.
Bukan hanya karena kesederhanaannya yang memang tidak semegah stasiun Tawang atau Stasiun Kedungjati, juga lalulintas kereta yang tidak ada membuat stasiun‎ makin ‘dijauhi’ warga. “Jika dulu ada kereta masih ada yang datang ke stasiun untuk naik kereta. Tapi, sekarang sudah tidak ada kereta yang turun dan warga juga banyak yang beralih ke sepeda motor jadi jarang ke stasiun. Malah bisa disebut tidak pernah ke stasiun,” tambahnya.
Keterkejutan yang sama dialami, Suwarno. Warga Sugihmanik yang hanya berjarak satu kilometer dari stasiun. Dia mengaku baru tahu pentingnya stasiun yang telah berdiri sejak jaman VOC tersebut. “Memang ada plang yang dipasang deket palang yang nadanya menyebutkan “dari sini kami bermula”. Mungkin itu maksudnya kereta menyebutkan stasiun pertama. Jika benar ini stasiun pertama mungkin dibuat museum malah akan bisa menjadi Tanggungharjo jadi ramai, stasiun kembali hidup dan lahan pendapatan bagi warga dengan jualan souvenir,” ungkap Suwarno, berusaha meraba sejarah.
Saat kecil, tambah Suwarno, bertandang ke Semarang jalur kereta dari stasiun Tanggung lah andalan warga. “Lantaran sudah tidak ada kereta jadi tidak pernah ke Stasiun lagi. Mungkin, biar ada manfaatnya dibuat museum saja, kan rumah dinas dibelakang stasiun kosong malah kacanya pecah karena tidak terawat,” tambahnya. (MJ-047)

Comments are closed.